Sim-Sam-Sim (Gerbang Akhir Suku Quilete)

Posted by Unknown in




“Suku Quilete yang merupakan pendatang baru di Kota St. Paradise bertindak dengan tidak manusiawi. Mereka membunuh dengan kejam semua budak-budak yang saat itu memang telah menetap di St. Paradise. Hingga pada akhirnya Roh-roh penasaran itu ingin sekali membalaskan dendamnya pada mereka…”

            Banyak kenangan-kenangan telah aku ukir di Velia. Kukira aku akan selamanya menetap di kota ini sampai tua nanti. Namun kini bayanganku itu telah sirna, kedua orangtua ku memutuskan untuk pindah ke sebuah kota di pelosok barat Negara ini. St.Paradise. Kota kecil yang dihuni oleh 1546 kepala keluarga ini masih banyak terdapat hutan-hutan lebat. Walaupun kota ini tidak se-Modern Velia namun aku harus mencoba mencintai kota ini.
            Ayah mengantarkanku ke sebuah gedung besar disana. Sebuah plang berdiri kokoh di depannya dan bertuliskan “St.Paradise High School”. Ya, sekolah ini lebih besar daripada sekolahku yang dulu di Velia. Apalagi sekolah ini hamper semuanya dikelilingi oleh pohon-pohon pinus besar. Luar biasa. Ayah mengantarkanku ke ruang informasi dan mengurus segalanya. Aku duduk di sofa dekat ruangan itu, dan tak berapa lama seorang wanita tua bersama ayah datang menghampiriku. Wanita tua itu memperkenalkan dirinya padaku “Hai selamat datang di sekolah barumu ini. Namaku Christine Jorg. Kau dapat memanggilku Nyonya Tine.” Dan akupun membalasnya “Terimakasih. Kau sangat hangat sekali padaku.” Tak berapa lama Ayah pamit, karena merasa yakin bahwa aku dapat berbaur bersama Nyonya Tine. Setelah itu ia memberikanku sebuah lembaran kertas yang berisikan Mata Pelajaran dan juga menyodorkan kunci loker padaku. Ia mengantarkanku tepat dimana lokerku berada dan pamit meninggalkanku. Ramah sekali dirinya.
            Cuaca cukup hangat disini, dan kukira Jaket ini lebih baik ku simpan di loker. Tak berapa lama dering bel berbunyi, saat kuperiksa jadwal untuk jam pertama kelasku sekarang adalah Sejarah. Aku bingung dimana kelas sejarah berada. Aku takut telat masuk kelas itu. Tapi tiba-tiba seseorang menyapaku hangat. “Hai, kau anak baru ya?” lalu akupun membalas pertanyaannya “Hai, iya benar.” Dari situ aku mengetahui ia bernama Anna. Ternyata ia memiliki jadwal yang sama dengan diriku. Saat kami dalam perjalanan menuju kelas Sejarah dari belakang seseorang berlari terburu-buru dan berteriak memanggil nama “Anna….” . Anna memalingkan kepalanya, percakapan-percakapan kecil sedang mereka lakukan. Aku hanya mendengarkan sedikit dari obrolan itu, yang banyak sekali aku dengar dari ucapan anak lelaki berambut keriting pirang itu adalah tentang Suku Quilete. “Anna apakah kita tidak akan telat?” Gerutuku padanya. “Kelas sejarah tepat ada di depan kita. Lihat Tuan Schuee belum datangkan?” Jawabnya sambil melepaskan senyum. Bodohnya aku, tidak pernah melihat sekitar dengan teliti…
            Kelas ini berisikan 20 Orang saja, jadi aku mulai mudah menghafal teman-teman baruku itu yang ada di kelas sejarah. Kini aku mulai berbaur dengan Anna dan teman laki-lakinya itu Sam. Setelah jam Sejarah selesai, segerombolan anak yang berjumlah 6 orang itu menghampiri kami. Mereka terlihat hangat padaku juga pada Sam dan Anna. Mereka mengajak kami untuk mengikuti perkemahan di hutan Lebiour. Aku menyetujuinya, namun terlihat rasa ingin menolak dari raut wajah Sam. Namun pada akhirnya kami menerima tawaran mereka.
            Aku telah menyediakan barang-barang yang harus kubawa, di depan rumah bunyi klakson mobil terdengar. Kulihat dari jendela, Sam dan Anna melambaikan tangan mereka menyapaku. Aku segera turun dan pamit kepada Ayahku. Di perjalanan, ada 2 mobil yang sama berada di depan kami. Ya, mereka segerombolan anak yang mengajak kami itu. “Praveen, pada intinya disana kita harus tetap waspada. Aku harap kau tidak berada jauh dari kami. Ini kapur jangan sampai hilang. Benda ini begitu penting bagi kita!” Kata Sam padaku. Aku tidak mengerti apa yang mereka maksud, namun ia tak ingin membicarakannya lebih.
            Setelah berjalan dengan menggunakan mobil, kami segera memberhentikan mobil kami di suatu tempat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ladang bunga-bunga Lavender berada di depan kami. Luar biasa aku baru pertama melihat pemandangan ini. Setelah melalui ladang itu, di depan terlihat sebuah gerbang tua yang sangat besar. Seseorang dari gerombolan itu membukannya, dan kami mulai memasuki kawasan itu.
            Langit gelap menyelimuti tenda-tenda kami. Suasana malam begitu terasa di sekitarku sekarang ini. Suara-suara serangga kecil dan hembusan angin malam semakin membuat bulu-bulu tanganku berdiri. Kami semua berada di sekitar api unggun, namun tiba-tiba seseorang dari kami mengusulkan untuk melakukan ritual yang belum pernah aku ketahui. Aku tak tau ritual apa yang akan kami lakukan, raut tidak setuju jelas terlihat dari Aku, Sam, dan Anna. Namun mereka menjelaskan bahwa ritual itu adalah tabu semata.
            “Sim….sam…sim…sim…sam…sim…sim…sam…sim” Kata-kata itu yang aku dengar. Suaranya menggema dimana-mana. Bulu-bulu tanganku berdiri ketakutan, pohon-pohon disekitar kamipun terhempaskan oleh angin-angin yang timbul tiba-tiba. Sekejap gaungan mantra itu tidak terdengar lagi, salah satu gerombolan yang bernama Daniel berkata “Lihat! Tak ada yang terjadi. Benar kan?” lalu, Rosalie yang juga bagian dari gerombolan itu membalasnya “Haha ini hanya mantra tabu. Dan benar tak ada yang terjadi.” Namun tak berapa lama dari ucapan Rosalie tadi, sepucuk surat yang terbawa angin tepat jatuh di dekat Rosalie. Saat itu ia langsung membukanya dan tertulislah “Eat your words”. Kulihat ia terlihat tegang namun saat itu Daniel memanggilnya untuk melihat sepucuk kertas itu, baru saja ia berdiri “Aaahhhhh” sebuah tombak dari belakang tepat menembus perut Rosalie. Cucuran darah merah segar keluar dari sekujur tubuh Rosalie. Semua orang yang berada disekitar itu panic dan ketakutan. Sama sepertiku. Sam yang berada di sebelahku mengambil alih untuk menjagaku dan Anna. Aro salah satu gerombolan itu kembali mengeluarkan perkataan yang tidak pantas “Shit! Son of a bitch! Keluarlah! Kalian pada hakikatnya hanya budak-budak tak berguna.” Kembali saat kami terlihat panic sepucuk surat terbawa oleh angin dan tepat berada di dekat Aro. Saat ia mengambilnya tertulislah “I’ll do my best, Just for you!” dan saat itu sebuah kapak mendekat menuju Aro, naas kapak itu memotong kepalanya yang bergelinding seperti bola.
            Kami berlari ketakutan saat melihat kejadian Aro tadi, Kami terpisah satu sama lain. Aku tetap bersama Anna, Sam, dan salah satu dari gerombolan itu Daniel. Kami tetap berlari ditengah kegelapan dan kesunyian hutan Lebiour. Anna terjatuh lunglai, Daniel yang terlihat ketakutan dan panic melontarkan omongan yang pedas “Anna bangunlah, bodoh! Kau mau kita mati? Cepat!” Anna yang menangis menjawabnya “Bedebah, Tolol! Jika kalian tidak menyanyikan mantra tadi ini semua tak akan terjadi!” Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat sejenak. Lolongan serigala-serigala membuat malam itu semakin mengerikan. “Baiklah ayo kita cari jalan keluar dan mencari bantuan” Kataku memecahkan keheningan malam itu. Semua setuju. Sam yang berdiri di depan kami, memimpin penjelajahan menakutkan ini.
            Mungkin telah sejam lebih kami berjalan, kami tak menemukan jalan keluar. Namun keheningan malam itu kembali membuat bulu-bulu tangan kami berdiri. Teriakan-teriakan kesakitan yang berada di dekat jejak menambah ketakutan kami. Kami berlari mendekati tempat dimana suara itu berada. Tepat saat kami sampai di tempat itu kami tercengang. Ke empat kawan kami yang terpisah itu mati secara tragis. Kepala-kepala mereka terikat rapih di atas dahan-dahan pohon. Sementara api yang berada di bawah pohon tersebut membakar tubuh-tubuh mereka. Aroma seperti babi bakar jelas menyerbak sekitar itu. Air mata tak henti-hentinya jatuh dari sepasang bola mata kami.
            Kami meninggalkan tempat itu, dan mencari jalan keluar. Kulihat arlojiku kini tepat pukul 3 dini hari. Namun kondisi hutan tetap gelap dan sunyi. Sam tiba-tiba berbicara sesuatu “Lihat! Ada orang disana!” tunjuknya. Daniel ketika mengetahuinya segera berlari menuju orang yang ditunjuk Sam. Namun saat Daniel memegang pundak orang itu rasa takut kembali datang. Seseorang berambut panjang, kusut, kurus, dan bola mata yang hanya ada satu itu menyimpan kedua tangannya dileher Daniel. Mengangkatnya perlahan dan cukup lama. Semakin lama Daniel sulit menghirup udara-udara masuk ke dalam hidungnya. Ketika itu suara-suara Daniel menghirup nafas tak terdengar lagi, dan orag itu melepaskannya dan membiarkannya jatuh tepat di atas tanah.
            Ia berjalan perlahan menghampiri kami, Sam menyuruhku membuat sebuah lingkaran menggunakan kapur. Sam kembali berada di posisi depan, Anna menggenggam kalung salib yang berada di lehernya sambil berkata-kata kecil. Dan aku, aku hanya merasakan ketakutan. Namun pandanganku tetap mengawasi orang yang ada di hadapan kami itu. “Apa maumu? Kami bukan salah satu dari mereka. Kami hanya pendatang baru sama seperti kalian dulu. Ingatlah kami bukan salah satu dari Suku Quilete.” Kata-kata itu keluar dari mulut Sam. Namun tetap saja orang itu berjalan menghampiri kami. Tawanya terbahak-bahak melenyapkan seluruh peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dalam hidup kami.
            Suara sirine mobil polisi membangunkan aku. Ayah memelukku dengan hati-hati. Kulihat Nyonya Tine berada disekitar bersama beberapa anggota polisi, Jurnalis, dan orang-orang lain. Anna dan Sam melepaskan senyumnya padaku. Terlihat jelas bahwa kita masih tak bisa melupakan pengalaman itu. Saat aku mulai berdiri dan melihat sekitar, ladang bunga Lavender yang sebelumnya terhampar luas kini berubah menjadi kuburan-kuburan yang luasnya hampir seluas ladang lavender itu. Roh-roh itu telah berhasil membalaskan dendamnya. Dan kini Suku Quilete telah berada di gerbang akhir kehidupannya.

Unknown

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow SORA on Twitter or read the blog.

0 comments:

Special offer

Contact us