The Journey
Hembusan
angin tak mampu melenyapkan debu-debu kelam itu. Hantaman ombak besarpun tak
mampu menghanyutkannya. Satu tahun sudah aku tak lagi bersamanya. Banyak yang
berubah dari diriku sekarang. Menjadi pendiam dan malas bersosialisasi. Seperti
sudah rutinitas, setiap pulang dari kampus tujuanku adalah pergi ke Pantai.
Melepaskan seluruh isi hati tanpa ada sebuah jawaban. Duduk di atas hamparan
pasir putih, tanpa seseorang yang menemani. Mentari kini perlahan mulai mundur
dari balik gunung, sungguh sunset yang luar biasa indahnya. Akupun kini mulai
berkemas dan kembali melajukan mobilku ke rumah.
“Christ..
makan dulu” Suara Mama yang memanggilku di bawah.
“Iya,
ma.. Sebentar” Jawabku
Akupun
mulai beranjak dari tempat tidurku menuju ruang makan yang ada dibawah.
Sebenarnya malas sekali untuk makan malam, tapi Mama selalu marah jika aku tak
makan malam. Di meja makan sudah banyak makanan-makanan dan minuman yang
terpampang nyata. Aku duduk di sebelah Adikku, ya Peter. Umurnya sekarang 15
tahun, beda 3 tahun denganku.
“Christ
gimana UAS nya? Bisa?” Kata Papa membuka obrolan
“Iya
pa, bisa.” Jawabku singkat
“Oke,
bagus. Oh ya, Christ nanti lusa kamu ke Inggris ya?”
“Hah?
Ngapain pa?” Jawabku tersedak
“Bisnis
lah Christ. Ada salah satu perusahan di Inggris yang mau kerjasama dengan perusahaan Papa”
“Ya
terus kenapa ga sama papa aja?”
“Christ
kamu harus belajar juga kan” Kata mama
“Iya
betul tuh kata mama.” Kata Papa setuju
Obrolan-obrolan
ini memang diluar dugaanku. Tak pernah disadari jika aku harus ikut campur
dengan pekerjaan papa. Tapi jika ini yang terbaik, maka aku putuskan untuk mengikuti
apa yang disuruh Papa.
“Hm..
bisa ketemu Rose dong lo Bang” Tiba-tiba Peter nyeletuk di sela obrolan aku
dengan papa. Aku diam saja dan tak mau menjawab perkataan Peter. Setelah
makanan aku telah habis dan sudah tak ada lagi yang ingin dibicarakan oleh papa
atau mama aku beranjak kembali ke kamarku. Menutup pintu dan berbaring di atas
kasur. Celetukan Peter tadi seakan membuatku berada di dimensi yang berbeda. Sebuah
harmoni hitam kembali lagi berputar dan bergema di pikiranku. Aku mencoba
menutup mataku dan tak lagi memikirkan dia lagi.
Keesokan
harinya, aku lebih mempersiapkan barang-barang apa saja yang aku bawa. Satu
koper mungkin cukup kubawa kesana yang hanya untuk dua minggu. Dan urusan
lainnya aku yakin sudah lebih dipersiapkan oleh papa. Tiba-tiba ingatan tadi
malam kembali lagi mengantui diriku. Menyanyikan lagi semua harmoni yang kelam
dan tak ingin aku dengarkan. Dengan reflex aku pergi ke luar kamar menuju tempat
mobilku berada. Tanpa harus memanaskan mesinnya terlebih dahulu, aku langsung
melajukan mobilku tanpa tau harus membawanya kemana. Namun sejenak aku ingin
sekali pergi ke pantai.. ya tempat yang paling nyaman menenangkan jiwaku ini.
Setelah sampai disana jiwaku kini mulai lebih baik. Angin-angin yang
mengepakkan seluruh ragaku menerbangkan debu-debu kelam itu. Ombak-ombak
pantaipun mencoba untuk menenggelamkan suara harmoni kelam itu. Aku tertunduk
dan tak tau harus melakukan apa. Sebuah kertas putih melayang-layang dibawa
angin dan tepat berada diatas kakiku. Akupun mengambilnya dan terduduk melihat
pemandangan pantai yang indah ini. Seketika aku bangkit dan mengambil sebuah
bolpoin yang ada di dalam mobil. Setelah itu aku kembali lagi terduduk di atas
bulir-bulir pasir putih pantai ini. Ku goreskan pena hitam ke dalam kertas
putih dan mencurahkan segala perasaan yang sedang kurasakan kini. Tak terasa
beberapa tulisan telah memenuhi kertas kecil itu. Sebuah puisi tentang
perasaanku kini….
Pujian Ombak dan Angin
Wahai ombak-ombak pantai
Dengarkanlah curahan hatiku ini
Harmoni kelam itu kembali bergeming
Aku tak sanggup lagi mendengarnya
Wahai angin-angin pantai
Dengarkanlah curahan hatiku ini
Debu hitam itu kembali menembus hatiku
Aku tak sanggup lagi merasakannya
Bagimu Para ombak dan angin pantai
Bantulah aku dari rasa gundah ini
Lenyapkanlah harmoni kelam ini bersama
ombak-ombakmu
Dan bawalah debu hitam ini bersama angin-anginmu….
Entah
akan aku apakan sebuah puisi ini. Namun kini perasaanku lebih tenang dan tidak
seperti sebelumnya. Kuputuskan untuk kembali lagi ke mobil, namun dalam
perjalananku aku melihat sebuah botol putih lengkap dengan tutupnya. Sebuah ide
muncul dalam benakku untuk memasukkan puisi itu kedalam botol itu. Maka akupun
mengikuti apa yang telah aku pikirkan dalam benakku. Lalu, setelah kututup
rapat botol itu dan telah kumasukkan puisinya aku kembali lagi menuju bibir
pantai. Meletakkan botol itu yang perlahan-lahan tertarik oleh ombak. Semakin
jauh botol itu terombang-ambing dibawa ombak-ombak itu kuharap begitupun dengan
perasaanku terhadap dirimu Rose….
Mentari
kini mulai berkuasa kembali. Aku sudah siap untuk pergi ke UK. Namun aku takut
jika nanti disana ada perasaan untuk mencari sosoknya. Tidak.. tidak.. Aku take
off mulai jam 8:45. Maka dari itu tepat jam 8.00 orang tuaku bersama adikku
Peter mengantar diriku menuju bandara. Beberapa saat kemudian akhirnya kami
sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Papa
sudah siapkan rekan kerja papa disana. Jadi kamu gausah khawatir. Just doing the best, dude! We love you!” Kata papa
sambil memelukku.
“Bye
sayang, Jaga kesehatan disana ya.” Mamapun tak kalah memelukku.
“Jangan
lupa bawa oleh-oleh yang banyak” Kata Peter polos
“Sial
lu, gua kasih baju-baju cucian gua aja ye haha” Jawabku bercanda
Akupun mulai berjalan menuju pesawat yang akan ku tumpangi.
Aku tak tau apa yang akan terjadi nanti disana. Langkah-langkahku semakin lama
semakin cepat. Disatu sisi aku bahagia mendapatkan kepercayaan dari orang tuaku
namun disisi lain aku takut, bila nanti disana bertemu sosok perempuan yang
sangat aku cinta.
I know I will falter I know I will cry
I know you'll be standing by my side
It's a long long journey
And I need to be close to you...
Pic by http://www.panhala.net

0 comments: