Christo & Rose : Chapter II

Posted by Unknown in

The Journey



Hembusan angin tak mampu melenyapkan debu-debu kelam itu. Hantaman ombak besarpun tak mampu menghanyutkannya. Satu tahun sudah aku tak lagi bersamanya. Banyak yang berubah dari diriku sekarang. Menjadi pendiam dan malas bersosialisasi. Seperti sudah rutinitas, setiap pulang dari kampus tujuanku adalah pergi ke Pantai. Melepaskan seluruh isi hati tanpa ada sebuah jawaban. Duduk di atas hamparan pasir putih, tanpa seseorang yang menemani. Mentari kini perlahan mulai mundur dari balik gunung, sungguh sunset yang luar biasa indahnya. Akupun kini mulai berkemas dan kembali melajukan mobilku ke rumah.
“Christ.. makan dulu” Suara Mama yang memanggilku di bawah.
“Iya, ma.. Sebentar” Jawabku
Akupun mulai beranjak dari tempat tidurku menuju ruang makan yang ada dibawah. Sebenarnya malas sekali untuk makan malam, tapi Mama selalu marah jika aku tak makan malam. Di meja makan sudah banyak makanan-makanan dan minuman yang terpampang nyata. Aku duduk di sebelah Adikku, ya Peter. Umurnya sekarang 15 tahun, beda 3 tahun denganku.
“Christ gimana UAS nya? Bisa?” Kata Papa membuka obrolan
“Iya pa, bisa.” Jawabku singkat
“Oke, bagus. Oh ya, Christ nanti lusa kamu ke Inggris ya?”
“Hah? Ngapain pa?” Jawabku tersedak
“Bisnis lah Christ. Ada salah satu perusahan di Inggris yang mau kerjasama dengan perusahaan Papa”
“Ya terus kenapa ga sama papa aja?”
“Christ kamu harus belajar juga kan” Kata mama
“Iya betul tuh kata mama.” Kata Papa setuju
Obrolan-obrolan ini memang diluar dugaanku. Tak pernah disadari jika aku harus ikut campur dengan pekerjaan papa. Tapi jika ini yang terbaik, maka aku putuskan untuk mengikuti apa yang disuruh Papa.
“Hm.. bisa ketemu Rose dong lo Bang” Tiba-tiba Peter nyeletuk di sela obrolan aku dengan papa. Aku diam saja dan tak mau menjawab perkataan Peter. Setelah makanan aku telah habis dan sudah tak ada lagi yang ingin dibicarakan oleh papa atau mama aku beranjak kembali ke kamarku. Menutup pintu dan berbaring di atas kasur. Celetukan Peter tadi seakan membuatku berada di dimensi yang berbeda. Sebuah harmoni hitam kembali lagi berputar dan bergema di pikiranku. Aku mencoba menutup mataku dan tak lagi memikirkan dia lagi.
Keesokan harinya, aku lebih mempersiapkan barang-barang apa saja yang aku bawa. Satu koper mungkin cukup kubawa kesana yang hanya untuk dua minggu. Dan urusan lainnya aku yakin sudah lebih dipersiapkan oleh papa. Tiba-tiba ingatan tadi malam kembali lagi mengantui diriku. Menyanyikan lagi semua harmoni yang kelam dan tak ingin aku dengarkan. Dengan reflex aku pergi ke luar kamar menuju tempat mobilku berada. Tanpa harus memanaskan mesinnya terlebih dahulu, aku langsung melajukan mobilku tanpa tau harus membawanya kemana. Namun sejenak aku ingin sekali pergi ke pantai.. ya tempat yang paling nyaman menenangkan jiwaku ini. Setelah sampai disana jiwaku kini mulai lebih baik. Angin-angin yang mengepakkan seluruh ragaku menerbangkan debu-debu kelam itu. Ombak-ombak pantaipun mencoba untuk menenggelamkan suara harmoni kelam itu. Aku tertunduk dan tak tau harus melakukan apa. Sebuah kertas putih melayang-layang dibawa angin dan tepat berada diatas kakiku. Akupun mengambilnya dan terduduk melihat pemandangan pantai yang indah ini. Seketika aku bangkit dan mengambil sebuah bolpoin yang ada di dalam mobil. Setelah itu aku kembali lagi terduduk di atas bulir-bulir pasir putih pantai ini. Ku goreskan pena hitam ke dalam kertas putih dan mencurahkan segala perasaan yang sedang kurasakan kini. Tak terasa beberapa tulisan telah memenuhi kertas kecil itu. Sebuah puisi tentang perasaanku kini….
Pujian Ombak dan Angin
Wahai ombak-ombak pantai
Dengarkanlah curahan hatiku ini
Harmoni kelam itu kembali bergeming
Aku tak sanggup lagi mendengarnya
Wahai angin-angin pantai
Dengarkanlah curahan hatiku ini
Debu hitam itu kembali menembus hatiku
Aku tak sanggup lagi merasakannya
Bagimu Para ombak dan angin pantai
Bantulah aku dari rasa gundah ini
Lenyapkanlah harmoni kelam ini bersama ombak-ombakmu
Dan bawalah debu hitam ini bersama angin-anginmu….

Entah akan aku apakan sebuah puisi ini. Namun kini perasaanku lebih tenang dan tidak seperti sebelumnya. Kuputuskan untuk kembali lagi ke mobil, namun dalam perjalananku aku melihat sebuah botol putih lengkap dengan tutupnya. Sebuah ide muncul dalam benakku untuk memasukkan puisi itu kedalam botol itu. Maka akupun mengikuti apa yang telah aku pikirkan dalam benakku. Lalu, setelah kututup rapat botol itu dan telah kumasukkan puisinya aku kembali lagi menuju bibir pantai. Meletakkan botol itu yang perlahan-lahan tertarik oleh ombak. Semakin jauh botol itu terombang-ambing dibawa ombak-ombak itu kuharap begitupun dengan perasaanku terhadap dirimu Rose….
Mentari kini mulai berkuasa kembali. Aku sudah siap untuk pergi ke UK. Namun aku takut jika nanti disana ada perasaan untuk mencari sosoknya. Tidak.. tidak.. Aku take off mulai jam 8:45. Maka dari itu tepat jam 8.00 orang tuaku bersama adikku Peter mengantar diriku menuju bandara. Beberapa saat kemudian akhirnya kami sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Papa sudah siapkan rekan kerja papa disana. Jadi kamu gausah        khawatir. Just doing the best, dude! We love you!” Kata papa sambil      memelukku.
“Bye sayang, Jaga kesehatan disana ya.” Mamapun tak kalah memelukku.
“Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak” Kata Peter polos
“Sial lu, gua kasih baju-baju cucian gua aja ye haha” Jawabku bercanda
          Akupun mulai berjalan menuju pesawat yang akan ku tumpangi. Aku tak tau apa yang akan terjadi nanti disana. Langkah-langkahku semakin lama semakin cepat. Disatu sisi aku bahagia mendapatkan kepercayaan dari orang tuaku namun disisi lain aku takut, bila nanti disana bertemu sosok perempuan yang sangat aku cinta.
I know I will falter I know I will cry
I know you'll be standing by my side
It's a long long journey
And I need to be close to you...

Unknown

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow SORA on Twitter or read the blog.

0 comments:

Special offer

Contact us