The Cave of Shadows

Posted by Unknown in







“Maukah kau menceritakan  pengalaman yang tak akan kau lupakan dari hidupmu?.” Kata seorang anak kecil.
“Uhuk.. boleh saja. Tapi kau memang bisa membayangkannya? Baiklah aku akan menceritakannya. Dengarkan baik-baik.” Jawabku
“Baiklah.. aku akan mendengarkannya dengan baik.” Balasnya penuh semangat.

            Saat itu kota ini sedang mengalami musim hujan. Setiap harinya selalu saja hujan. Bagi kami (Aku dan Kawan-kawanku) ini adalah hal yang membosankan. Kami tak bisa lagi bermain di sungai, mengelilingi hutan, dan hal-hal yang saat itu kami lakukan untuk menghabiskan waktu kami. Ketiga temanku itu sangat cerdik sekali. Makadari itu aku senang sekali jika menghabiskan waktu bersama mereka. Mereka adalah Grint, Jedediah, dan Petr.
            Pagi itu tidak seperti biasanya. Hujan tak memunculkan kekuasaanya. Dan matahari yang menggantikan posisinya kala itu. Petr tampak kegirangan saat mengetahuinya. “Terimakasih Lithium.. Kau memang yang mengetahui keinginan kami”. Raut riang gembira tampak terlihat dari muka kami. “Kalian tau, ini adalah waktu yang kita tunggu saat musim hujan mulai menyelimuti desa ini. Dan aku kira kita sudah lama tak pernah bermain di sungai. Aku sangat merindukan alirannya itu.” Perkataan itu terlontar dari mulut Grint. “Baiklah aku menyetujuinya! Aku juga benar-benar merindukan sungai kecil itu.” Jawab Petr yang juga mewakili perasaan kami semua,
            “Wir sind ein tapferer Junge. Durch üppig grünen Wald. Durchfluss am rauschenden Fluss. Und wieder zurück in das Haus zusammen. Denn wir sind ein tapferer Junge.” Nyanyian anak pemberani itu menemani kami dalam perjalan menuju hutan. Itulah yang biasa kami lakukan saat pergi ke hutan. Pohon-pohon pinus rindang menyelimuti kawasan itu. Suara-suara binatang-binatang kecil mulai menggema. Semakin jauh dari desa langit yang cerah perlahan meredup. Awan-awan hitam kini mulai saling menyatu terbawa oleh angin. Perlahan sinar-sinar terang yang terpancar dari celah-celah pohon itu mulai menghilang. “Kita tak ingin kembali ke desa atau masih ingin melanjutkan perjalanan ini?” Tanyaku. Perlahan langkah kaki kami terhenti. “Hmm.. Tapi kita sudah berjalan cukup jauh.” Jawab Jedediah yang terlihat lelah. “Baiklah kita melanjutkan saja perjalanan ini.” Jawab Petr menyetujui. Terlihat mereka semua menyetujui tanggapan Petr, akupun mengikuti kemauan mereka.
            Dari jauh gemercik air sungai mulai terdengar. Namun kegembiraan kami sejenak terhenti karena hujan mulai turun. Walaupun tidak begitu deras, namun kami masih bersemangat untuk bermain di sungai itu. Kami mulai terjun bermain air di sungai itu. Entah sudah berapa lama kami bermain di tempat ini, namun hujan kini begitu deras. Aliran sungai semakin keras dan kamipun lebih memilih untuk mengakhirinya daripada hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi.
            Beberapa dari kami mencari daun-daun besar sebagai pelindung dari kami. Menurutku daun-daun itu tidak penting karena tubuh kita sudah terlanjur basah kuyup. Derasnya hujan mempercepat langkah kaki kami. Arah kaki kami tidak sesuai dengan langkah kaki kami saat datang kesini. Entah kami berada dimana, namun didepan kami ada jalan setapak yang belum pernah kami lalui. “Sial. Sepertinya kita tersesat?.” Kata Jedediah. “Ahh.. lalu bagaimana? Bagaimana jika ada serigala atau harimau?.” Balas Grint panik. “Sudah jangan panik. Kita lalui bersama.” Kata Petr agar Grint tidak terlalu panik. Aku tidak merespond ocehan mereka. Namun kuakui aku sangat panik. Karena ini untuk pertama kalinya kami tersesat. “Baiklah sebaiknya kita ikuti semak-semak ini. Mungkin saja jalan ini juga mengarahkan kita ke desa.” Kata Jedediah.
            Akhirnya kami memutuskan melalui jalan setapak ini. Tumbuhan-tumbuhan liar menghalangi setiap jalan yang kami lalui. Hujanpun tak berhenti-hentinya turun. Entah sudah berapa lama kami berjalan, namun kini tampak di depan kami sebuah bangunan batu besar yang ditutupi belukar dan terlihat sangat gelap. Kian lama batuan itu semakin membuat kami ingin tau. Namun percuma jikalau kami ingin melihatnyapun semua akan tampak gelap. Tapi semua yang telah kami pikirkan itu salah besar. Saat baru saja Jedediah mencabut belukar-belukar yang menutupi lubang masuk itu, ruangan itu begitu terang. Meski disekelilingnya tak ada obor bahkan alat penerangan yang ada saat itu.
            “Oh Zeus… betapa indahnya tempat ini… LUAR BIASA!!” Lontaran itu keluar dari mulut Grint. Begitu juga dengan Petr dan Jedediah. Tapi tidak bagiku, semua begitu aneh dan tidak pernah terbayangkan. Saat ketiga dari mereka mulai berlari-lari menelusuri bangunan batu ini aku hanya terdiam saja di lubang mulut batu itu. Menunggu hujan berhenti. Dari jauh Petr berteriak “Ayo kemari! Tulis namamu disini!” namun aku diam saja tidak menghiraukan teriakan Petr.
            Semakin lama langit semakin gelap. Hujanpun kian mereda. Suasana di dalam batu besar inipun meredup. Aku bingung, Petr, Jedediah, dan Grint tak terdengar suaranya. “Kawan-kawan kalian dimana?.” Teriakku yang menggema diruangan itu. Beberapa kali aku berteriak juga tak ada balasan. Segera aku mulai menelusuri batu besar itu, namun perlahan tempat itu semakin aneh. Batuan-batuan yang tadi baru saja kulalui itu perlahan berubah. Tempat itu mulai berkilau. Emas-emas murni kini melapisi batuan besar ini. Perlahan mataku mulai tergiur dengan tempat ini, dari jauh aku melihat kawan-kawanku sedang berlari-lari. Saat aku ingin mulai pergi mendekati mereka, dari belakang terdengar langkah kaki yang perlahan mendekat padaku. Saat aku mulai memalik badanku dan........
            “Kau tidak apa-apa?” Kata seorang perempuan kecil yang kini berada dihadapanku. “Kau siapa? Kemana kawan-kawanku?” Jawabku mulai sadar. Iapun menjawabnya “Mereka telah pergi menuju desa. Mencari bantuan untuk menolongmu. Namun jika kau ingin pulang sekarang dengan senang hati akan aku antar.” Jawabnya dengan suara yang lembut.
            Aku menyetujui penawarannya. Diperjalanan aku tidak terlalu banyak berbicara, begitu juga dengannya. Ia terlihat seperti anak berumur 7 tahun, berambut ikal pendek dan berwarna merah. Kulitnya yang putih juga sepasang matanya yang cukup besar dan sungguh menawan. “Baiklah itu desamu kan?.” Tanyanya sambil menunjukkan salah satu jarinya. “Benar… Terimakasih.” Jawabku sambil tersenyum padanya. Ia hanya membalas dengan senyum kecilnya itu. “Hai namamu siapa?” Teriakku.
            “Lalu apa yang membuat kenangan ini indah?.” Kata anak kecil yang memotong ceritaku.
            “Dengarkanlah aku dulu.” Jawabku menegaskannya.
            Perlahan aku membukakan mataku. Bayangan-bayangan terlihat samar. Namun aku mulai kaget saat disekitarku sedang banyak orang. Mereka terlihat seperti menunggu-nungguku untuk terbangun. “Finn kau baik-baik saja?” Tanya lelaki tua dihadapanku. “Hmm ya aku baik-baik saja. Kemana Petr, Grint, Dan Jedediah?.” Balasku. Tiba-tiba aku dibuat shock saat mendengarkan celetukkan dari seorang pria itu juga “Mereka mati..!”. “Apa?.. Kkkata kan yang sebenarnya! Jangan membuatku takut!” Jawabku yang perlahan mengeluarkan air mata. “Iya, Finn. Mereka telah tiada. Jasadnya ditemukan saat kalian sedang bermain di sungai. Dan saat itu hanya kaulah yang selamat.” Balas ibuku meyakinkanku. “Tidakk! Kami saat itu berada di sebuah batuan besar!.” Kataku menyela ocehan mereka. “Tunggu! Lalu siapa yang membawaku kemari?.” Perlahan dari jauh pria tua itu membalas pertanyaanku “Kami! Kami semua yang menyelamatkanmu, Finn!”. Ini membuatku bingung lalu aku membalasnya “Tapi ia mengatakan jika Petr, Grint, dan Jedediah telah pergi lebih dahulu saat aku pingsan di batuan besar itu. Dan anak kecil itulah yang membawaku pulang.” Jawabku panjang lebar. Sejenak mereka juga bingung, beberapa dari mereka menganggap ini adalah sesuatu yang aneh dan diluar nalar. “Kau bilang tadi setelah dari sungai kau tersesat lalu menemukan sebuah ruangan batu besar?” Tanya ibuku. “Iya, bu.” Jawabku singkat. “Baiklah mampukah kau untuk menunjukkan arah ke tempat itu?” Balas pria tua itu.
            Akupun menyetujuinya tawaran mereka. Aku mulai menunjukkan jalan-jalan yang sebelumnya telah dilewati. Dan beberapa saat kemudian jalan setapak itu mulai kutemukan. Aku mulai menggiring rombongan yang berada di belakangku untuk mengikuti diriku. Tumbuhan-tumbuhan liar yang menghalangi perjalanan kita sama persis seperti yang aku lewati saat bersama kawan-kawanku itu. Namun seketika aku mulai bingung akhir dari semak-semak ini adalah Sungai yang tempat biasa kami bermain. Kakiku tak mampu menopang tubuhku ini dan seketika aku duduk terjatuh dan tak sanggup untuk melontarkan kata-kata.
“Selesai…..” Kataku pada anak kecil yang masih setia mendengarkanku.
“Membingungkan. Tapi siapa nama anak kecil itu, Kek?.” Balasnya.
“Evelyn Liths…” Kataku
“Apa? Itu kan namaku? Dan ia juga mirip denganku? Yang benar kek……?

Unknown

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow SORA on Twitter or read the blog.

0 comments:

Special offer

Contact us