Christo&Rose Chapter III

Posted by Unknown in


THE FIRST TIME





“Ladies and Gentlements. Soon we will be landing at London Heathrow Airport. Thank you for using Garuda Indonesia The Airline of Indonesia.”
          Salju putih tengah menyelimuti Negeri Ratu Elisabeth itu. Baju hangat yang kugunakan cukup membuatku hangat. Karena suhu dingin disana tidak terlalu dingin di bandingkan kota-kota lain yang ada di Eropa. Aku tidak tau harus kemana lagi sekarang, apa tak ada yang menjemputku? Gila!. Namun tiba-tiba sosok pria berumur 35 tahunan menghampiriku.
“Christo..” Katanya
“Iya, oh Om Carlo!” Kataku kaget
          Tak disangka Om Carlo yang menjemputku. Masih ingat dia adalah orang yang mengasuhku waktu kecil di Jakarta. Dan sekarang aku kembali lagi bersamanya meski hanya untuk beberapa hari saja. Tapi aku benar-benar merindukannya.
“Oke sini om yang bawa koper-kopermu Christ.” Kata om Carlo
“Udah gak usah, Om.” Jawabku
“sini ah..” Om Carlo memaksa merebut koper-koperku
          Sebuah Volvo hitam telah menghampiri kami. Keluarlah seorang supir memakai Jas Hitam gagah yang membawa koper-koperku dan menyimpannya di bagasi belakang. Kami pun segera pergi melaju entah kemana…
“Christ, kamu mau makan dulu gak?” Kata om Carlo
“Engga Om, udah kenyang. Tadi di pesawat udah makan banyak. Hehehe” jawabku.
“Haha baiklah.” Balasannya
          Aku tidak tau akan dibawa kemana. Tapi jikalau aku di bawa ke Hotel atau Apartement pun tidak harus melewati hutan-hutan pinus seperti ini. Tapi sungguh luar biasa kota ini. Meski sudah banyak gedung-gedung tinggi dimana-mana namun alam-alam Countryside nya mampu terjaga. Setelah beberapa jam akhirnya sampai juga di sebuah Rumah cukup besar dan mewah yang benar-benar luar biasa mewahnya. Didepan sudah ada yang menyambut diriku. Seorang wanita yang juga familiar bagiku dan juga 2 orang anak laki-lakinya Om carlo.
“Selamat datang Christ.” Kata Tante Ann
          Aku tidak sempat menjawab karena ia langsung memeluk erat diriku. Luar biasa aku tak pernah mengira akan disambut oleh Keluarga Om Carlo ini.
“Hi, ingat saya?” Kata salah satu dari anak Om Carlo
          Aku menilik-nilik wajah salah satu dari kedua anak lelaki Om Carlo. Ya, aku ingat siapa dia sekarang. Juan. Bocah kecil yang dulu sering aku bawa main bersama teman-temanku di Jakarta dulu. Tapi dulu dia begitu amat gendut. Dan sering menjadi objek tawa teman-teman.
“Juan! Lu ko jadi keren gini sekarang?.” Tanyaku heran
“You know after I have wet dreams i didn’t want to have fat body . Too ashamed.” Jawabnya sambil kegirangan.
“Ofcourse I agree with your opinion. But you shouldn’t tell us about your wet dreams  right?” Jawabku sedikit bercanda.
“What the fuck! Ofcourse! Just me and myself who enjoyed that dreams.” Katanya sedikit nakal.
          Semuanya tertawa saat obrolan aku dan Juan sedikit menyimpang. Wajarlah anak baru gede itu butuh sesuatu yang baru. Khususnya tentang pelajaran seperti itu. Barang-barangku dibawakan menuju kamar yang akan aku tempati untuk beberapa hari.
“Terimakasih bantuannya bro!” Kataku
“Sama-sama. Ke kamar aja if you need something kay?” jawab Juan padaku
“Tunggu, yang satu lagi siapa? Gue kan belum kenal dia!”
“Oh yeah gue lupa. Introduce your self, dude!.” Kata juan pada adiknya.
“Hi saya Danovandro.” Katanya
“Hi, juga saya Christo. Senang bertemu denganmu ya” jawabku
“Pardon me?” Katanya tak mengerti
“Dia tidak fasih berbahasa Indonesia Christ” Sambar Juan
“Oh.. Nice to meet you.” Kataku
          Danovandro tidak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum kecil padaku. Tidak seperti kakanya yang Talkative, ia hanya bicara jika saat tertentu saja. Di kamar, tentu saja aku berbaring di tempat tidur. Di luar pemandangannya cukup menakjubkan. Aku tak pernah membayangkan jika alam pedesaan di Kota Elit ini masih terlestarikan. Pohon-pohon pinus tinggi masih tertanam kokoh. Aliran sungai kecil yang belum tercemar dan suasana yang dingin karena musim dingin ini. Ketukan pintu tiba-tiba mengagetkanku lamunanku.
“Christ, ini gue Juan.”
“Masuk aja, bro!.” Kataku
“Lu cape ga sekarang?” Tanyanya
“Kagak juga sih, emang kenapa?” Timbal gue
“Kagak, sekarang ada pameran lukisan di Covent Garden kesana yo?”
“Oke tapi gue mau mandi dulu ye.”
“Oke oke!”
          Juan memang dari kecil sudah menyukai hal-hal yang berbaur tentang lukisan. Beberapa karyanya pun yang telah aku liat cukup luar biasa bagus. Toh, orangtuannya dengan bangganya memajangnya di beberapa sudut rumah ini. Setelah mandi aku segera mengenakan mantel hangatku dan sarung tangan hitam.
“Christ buruan!!” Teriak Juan di bawah
“Oke oke” Jawabku sambil turun melewati tangga.
          Sebuah mobil Volvo hitam telah siap melaju. Ternyata hanya aku dan Juan saja yang pergi ke Pameran Lukisan itu. Langit mulai gelap saat kami mulai melajukan mobil menuju Covent Garden.
          Tak memerlukan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di Covent Garden. Luar biasa gedung ini. Bangunan yang ku kira sudah berumur ratusan tahun masih saja kokoh tak lelap di makan waktu. Cukup ramai di pameran ini, mulai memasuki aula nya para pengunjung telah disuguhi oleh berbagai lukisan-lukisan. Ornamen-ornamen lampu yang berkilauan menambah cantiknya gedung ini. Ini adalah pengalaman yang sungguh indah bagiku.
“Oke Christ, lu kalau mau keliling-keliling boleh aja. Don’t forget at 8 PM we will meet on this spot. Don’t forget kay?” Kata Juan panjang lebar.
“Emang lu mau kemana?”
“There’s my girlfriend. Ofcourse you know what I mean right? Bye see you later.” Balasannya sambil menjauh dariku.
“Shit!”
          Baiklah sekarang baru jam 7 PM dan ada waktu sejam bagi gue untuk ngeliat-liat lukisan yang gak gue ngerti dan mondar-mandir di gedung yang besar ini. Tiba-tiba aku tertarik dengan sebuah lukisan yang aku piker aku bisa mengerti maksudnya. Lukisan sekuncup bunga mawar merah namun tidak sempurna dalam tiap goresannya. Aku yakin lukisan ini curahan hati sang pelukisnya. Ia sedang patah hati, aku kira… Seseorang wanita berperawakkan tak terlalu tinggi, menggunakan sebuah syal dan pakaian hangat tebal bercelana jeans.
“Hi, what do you think about this painting?” celetuknya
“Incredible, it’s great painting I’ve ever seen” jawabku
“Really?” timpalnya
“Yeah, it is just my opinion.” Jawabku
“Thanks” Katanya sambil tersenyum padaku
“Wait, whats your name?” Tanyaku
“I’m Evelyn Widjaya” Balasnya
“Wait, is it your painting? And are you Indonesian?” Tanyaku heran
“Hmm yeah that’s my painting. Yes I’m an Indonesian. How about you?” Katanya balik nanya
“So am I, Can you speak bahasa?” Tanyaku
“Hahaha ternyata orang Indonesia juga ya kamu?”
“Iya, Saya Christo.” Kataku
          Dari situ mulai banyak bincangan-bincangan menarik yang terjadi. Segalanya ia ceritakan padaku. Mulai dari lukisannya dan hal-hal pribadi. Akupun sama menceritakan tentang diriku padanya. Sayangnya meski ia fasih dalam berbicara Indonesia namun ia bukan seorang WNI. Ia warga Negara Inggris. Aku menanyakannya tentang maksud dari lukisan itu. Dan ia menjawab
“Itu lukisan mungkin orang-orang menganggapnya biasa saja, tapi mereka tidak tau apa yang aku maksudkan dalam lukisan itu. Sekuncup bunga mawar itu kamu bisa liat kan? Ada goresan-goresannya? Dan mungkin kamu tau apa yang aku maksud.” Katanya sambil senyum padaku.
“Iya aku tau. Liat deh banyak juga orang-orang yang melihat lukisan kamu.” Kataku memuji dirinya.
          Mahasiswi Royal College of Art ini semakin menarik jika aku ajak mengobrol. Ia ramah sekali meskipun aku baru saja mengenalnya beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba dari belakang Juan memanggilku.
“Lo kemana aja? Gue cari-cari kemana-mana cape tau.” Katanya mengeluh.
“Shut up! Itu karma gue kira haha.” Jawabku sambil tertawa
“Ayo pulang!” Katanya singkat sambil berjalan keluar.
“Oke, Evelyn saya mau pulang duluan ya.” Kataku padanya
“Baiklah, hmm bisa kita ketemu… lain waktu.”Jawabnya
“Bisa saja, tapi aku di Inggris hanya untuk satu minggu saja. Boleh kita saling tukar kartu nama?” Balasku
“Oke, tentu saja. Ini.”
“Oke, terimakasih. Jumpa kamu lain waktu.” Kataku
“Bye, see you soon.”
          Akupun berjalan menuju jalan keluar gedung itu. Terimakasih tuhan aku bisa bertemu seseorang seperti dia. Sejenak bayanganku tentang Rose dapat sedikit buyar saat bertemu dengannya. dan Obrolan tadi semakin membuatku tertarik padanya. Rasa sendu itu kini perlahan tergantikan oleh hadirnya sosok baru yang mungkin akan mewarnai hari-hariku kelak. Mobilpun melaju dengan cepat melalui kehidupan malam yang masih hidup di Kota Metropolitan ini.

“THE FIRST TIME EVER I SAW YOUR FACE
I THOUGHT THE SUN ROSE IN YOUR EYES”


Unknown

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow SORA on Twitter or read the blog.

0 comments:

Special offer

Contact us