THE FIRST TIME
“Ladies and Gentlements.
Soon we will be landing at London Heathrow Airport. Thank you for using Garuda
Indonesia The Airline of Indonesia.”
Salju putih tengah menyelimuti Negeri Ratu Elisabeth itu.
Baju hangat yang kugunakan cukup membuatku hangat. Karena suhu dingin disana
tidak terlalu dingin di bandingkan kota-kota lain yang ada di Eropa. Aku tidak
tau harus kemana lagi sekarang, apa tak ada yang menjemputku? Gila!. Namun
tiba-tiba sosok pria berumur 35 tahunan menghampiriku.
“Christo..” Katanya
“Iya, oh Om Carlo!” Kataku
kaget
Tak disangka Om Carlo yang menjemputku. Masih ingat dia
adalah orang yang mengasuhku waktu kecil di Jakarta. Dan sekarang aku kembali
lagi bersamanya meski hanya untuk beberapa hari saja. Tapi aku benar-benar
merindukannya.
“Oke sini om yang bawa
koper-kopermu Christ.” Kata om Carlo
“Udah gak usah, Om.” Jawabku
“sini ah..” Om Carlo memaksa
merebut koper-koperku
Sebuah Volvo hitam telah menghampiri kami. Keluarlah
seorang supir memakai Jas Hitam gagah yang membawa koper-koperku dan
menyimpannya di bagasi belakang. Kami pun segera pergi melaju entah kemana…
“Christ, kamu mau makan dulu
gak?” Kata om Carlo
“Engga Om, udah kenyang.
Tadi di pesawat udah makan banyak. Hehehe” jawabku.
“Haha baiklah.” Balasannya
Aku tidak tau akan dibawa kemana. Tapi jikalau aku di bawa
ke Hotel atau Apartement pun tidak harus melewati hutan-hutan pinus seperti
ini. Tapi sungguh luar biasa kota ini. Meski sudah banyak gedung-gedung tinggi
dimana-mana namun alam-alam Countryside nya mampu terjaga. Setelah beberapa jam
akhirnya sampai juga di sebuah Rumah cukup besar dan mewah yang benar-benar
luar biasa mewahnya. Didepan sudah ada yang menyambut diriku. Seorang wanita
yang juga familiar bagiku dan juga 2 orang anak laki-lakinya Om carlo.
“Selamat datang Christ.”
Kata Tante Ann
Aku tidak sempat menjawab karena ia langsung memeluk erat
diriku. Luar biasa aku tak pernah mengira akan disambut oleh Keluarga Om Carlo
ini.
“Hi, ingat saya?” Kata salah
satu dari anak Om Carlo
Aku menilik-nilik wajah salah satu dari kedua anak lelaki
Om Carlo. Ya, aku ingat siapa dia sekarang. Juan. Bocah kecil yang dulu sering
aku bawa main bersama teman-temanku di Jakarta dulu. Tapi dulu dia begitu amat
gendut. Dan sering menjadi objek tawa teman-teman.
“Juan! Lu ko jadi keren gini
sekarang?.” Tanyaku heran
“You know after I have wet
dreams i didn’t want to have fat body . Too ashamed.” Jawabnya sambil
kegirangan.
“Ofcourse I agree with your
opinion. But you shouldn’t tell us about your wet dreams right?” Jawabku sedikit bercanda.
“What the fuck! Ofcourse!
Just me and myself who enjoyed that dreams.” Katanya sedikit nakal.
Semuanya tertawa saat obrolan aku dan Juan sedikit menyimpang.
Wajarlah anak baru gede itu butuh sesuatu yang baru. Khususnya tentang
pelajaran seperti itu. Barang-barangku dibawakan menuju kamar yang akan aku
tempati untuk beberapa hari.
“Terimakasih bantuannya
bro!” Kataku
“Sama-sama. Ke kamar aja if
you need something kay?” jawab Juan padaku
“Tunggu, yang satu lagi
siapa? Gue kan belum kenal dia!”
“Oh yeah gue lupa. Introduce
your self, dude!.” Kata juan pada adiknya.
“Hi saya Danovandro.”
Katanya
“Hi, juga saya Christo.
Senang bertemu denganmu ya” jawabku
“Pardon me?” Katanya tak
mengerti
“Dia tidak fasih berbahasa
Indonesia Christ” Sambar Juan
“Oh.. Nice to meet you.”
Kataku
Danovandro tidak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum
kecil padaku. Tidak seperti kakanya yang Talkative, ia hanya bicara jika saat
tertentu saja. Di kamar, tentu saja aku berbaring di tempat tidur. Di luar
pemandangannya cukup menakjubkan. Aku tak pernah membayangkan jika alam
pedesaan di Kota Elit ini masih terlestarikan. Pohon-pohon pinus tinggi masih
tertanam kokoh. Aliran sungai kecil yang belum tercemar dan suasana yang dingin
karena musim dingin ini. Ketukan pintu tiba-tiba mengagetkanku lamunanku.
“Christ, ini gue Juan.”
“Masuk aja, bro!.” Kataku
“Lu cape ga sekarang?”
Tanyanya
“Kagak juga sih, emang
kenapa?” Timbal gue
“Kagak, sekarang ada pameran
lukisan di Covent Garden kesana yo?”
“Oke tapi gue mau mandi dulu
ye.”
“Oke oke!”
Juan memang dari kecil sudah menyukai hal-hal yang berbaur
tentang lukisan. Beberapa karyanya pun yang telah aku liat cukup luar biasa
bagus. Toh, orangtuannya dengan bangganya memajangnya di beberapa sudut rumah
ini. Setelah mandi aku segera mengenakan mantel hangatku dan sarung tangan
hitam.
“Christ buruan!!” Teriak
Juan di bawah
“Oke oke” Jawabku sambil
turun melewati tangga.
Sebuah mobil Volvo hitam telah siap melaju. Ternyata hanya
aku dan Juan saja yang pergi ke Pameran Lukisan itu. Langit mulai gelap saat
kami mulai melajukan mobil menuju Covent Garden.
Tak memerlukan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di
Covent Garden. Luar biasa gedung ini. Bangunan yang ku kira sudah berumur
ratusan tahun masih saja kokoh tak lelap di makan waktu. Cukup ramai di pameran
ini, mulai memasuki aula nya para pengunjung telah disuguhi oleh berbagai
lukisan-lukisan. Ornamen-ornamen lampu yang berkilauan menambah cantiknya
gedung ini. Ini adalah pengalaman yang sungguh indah bagiku.
“Oke Christ, lu kalau mau
keliling-keliling boleh aja. Don’t forget at 8 PM we will meet on this spot.
Don’t forget kay?” Kata Juan panjang lebar.
“Emang lu mau kemana?”
“There’s my girlfriend.
Ofcourse you know what I mean right? Bye see you later.” Balasannya sambil
menjauh dariku.
“Shit!”
Baiklah sekarang baru jam 7 PM dan ada waktu sejam bagi gue
untuk ngeliat-liat lukisan yang gak gue ngerti dan mondar-mandir di gedung yang
besar ini. Tiba-tiba aku tertarik dengan sebuah lukisan yang aku piker aku bisa
mengerti maksudnya. Lukisan sekuncup bunga mawar merah namun tidak sempurna
dalam tiap goresannya. Aku yakin lukisan ini curahan hati sang pelukisnya. Ia
sedang patah hati, aku kira… Seseorang wanita berperawakkan tak terlalu tinggi,
menggunakan sebuah syal dan pakaian hangat tebal bercelana jeans.
“Hi, what do you think about
this painting?” celetuknya
“Incredible, it’s great
painting I’ve ever seen” jawabku
“Really?” timpalnya
“Yeah, it is just my
opinion.” Jawabku
“Thanks” Katanya sambil
tersenyum padaku
“Wait, whats your name?”
Tanyaku
“I’m Evelyn Widjaya”
Balasnya
“Wait, is it your painting?
And are you Indonesian?” Tanyaku heran
“Hmm yeah that’s my
painting. Yes I’m an Indonesian. How about you?” Katanya balik nanya
“So am I, Can you speak
bahasa?” Tanyaku
“Hahaha ternyata orang
Indonesia juga ya kamu?”
“Iya, Saya Christo.” Kataku
Dari situ mulai banyak bincangan-bincangan menarik yang
terjadi. Segalanya ia ceritakan padaku. Mulai dari lukisannya dan hal-hal
pribadi. Akupun sama menceritakan tentang diriku padanya. Sayangnya meski ia
fasih dalam berbicara Indonesia namun ia bukan seorang WNI. Ia warga Negara
Inggris. Aku menanyakannya tentang maksud dari lukisan itu. Dan ia menjawab
“Itu lukisan mungkin
orang-orang menganggapnya biasa saja, tapi mereka tidak tau apa yang aku
maksudkan dalam lukisan itu. Sekuncup bunga mawar itu kamu bisa liat kan? Ada
goresan-goresannya? Dan mungkin kamu tau apa yang aku maksud.” Katanya sambil
senyum padaku.
“Iya aku tau. Liat deh
banyak juga orang-orang yang melihat lukisan kamu.” Kataku memuji dirinya.
Mahasiswi Royal College of Art ini semakin menarik jika aku
ajak mengobrol. Ia ramah sekali meskipun aku baru saja mengenalnya beberapa
menit yang lalu. Tiba-tiba dari belakang Juan memanggilku.
“Lo kemana aja? Gue
cari-cari kemana-mana cape tau.” Katanya mengeluh.
“Shut up! Itu karma gue kira
haha.” Jawabku sambil tertawa
“Ayo pulang!” Katanya
singkat sambil berjalan keluar.
“Oke, Evelyn saya mau pulang
duluan ya.” Kataku padanya
“Baiklah, hmm bisa kita
ketemu… lain waktu.”Jawabnya
“Bisa saja, tapi aku di
Inggris hanya untuk satu minggu saja. Boleh kita saling tukar kartu nama?”
Balasku
“Oke, tentu saja. Ini.”
“Oke, terimakasih. Jumpa
kamu lain waktu.” Kataku
“Bye, see you soon.”
Akupun berjalan menuju jalan keluar gedung itu. Terimakasih
tuhan aku bisa bertemu seseorang seperti dia. Sejenak bayanganku tentang Rose
dapat sedikit buyar saat bertemu dengannya. dan Obrolan tadi semakin membuatku
tertarik padanya. Rasa sendu itu kini perlahan tergantikan oleh hadirnya sosok
baru yang mungkin akan mewarnai hari-hariku kelak. Mobilpun melaju dengan cepat
melalui kehidupan malam yang masih hidup di Kota Metropolitan ini.
“THE FIRST TIME EVER I SAW YOUR FACE
I THOUGHT THE SUN ROSE IN YOUR EYES”

0 comments: