Cerpen : Di Bawah Langit Purwakarta

Posted by Unknown in


“Yah, seperti yang kita semua tahu, satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan patah hati adalah waktu-atau orang baru.” –Nina Ardianti, Restart.
        Sebuah kesalahan besar jika aku harus mengakhiri hidupku ini, hanya karena cinta yang tidak terbalaskan. Padahal jauh sebelum aku mengenalnya, aku masih bisa menjalani hidup tanpa adanya beban. Bahkan saat itu aku benar-benar merasakan indahnya kehidupan. Sebelum akhirnya, aku terperangkap pada buaian cinta palsunya.
        Tidak bisa dipungkiri lagi, kesedihanku ini hanya bisa aku rasakan sendiri. Aku tidak mau orang-orang sekitarku mengetahui kelemahanku ini. Bahkan aku tidak mau orangtuaku tau apa yang aku rasakan. Tapi sepertinya, mereka pun bisa merasakan jika ada sesuatu masalah yang sedang aku hadapi sendiri ini. Dan merekapun tidak mau melihat aku selalu diam dan lebih senang menyendiri di dalam kamar. Ibu menyuruhku untuk pergi liburan ke sebuah kota yang tidak jauh dari Bandung. Purwakarta. Aku tidak mengetahui terlalu banyak tentang kota itu, tapi aku langsung menyetujui permintaan Ibu.
        Aku pergi kesana menggunakan kereta. Perjalananpun tidak akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Satu jam lebih, aku sampai di Stasiun Purwakarta. Edo, sepupuku telah menunggu disana. Ya, untuk beberapa hari ke depan, aku akan tinggal di rumah Edo. Umurnya tidak jauh berbeda denganku, dia memiliki sifat yang benar-benar ramah dan juga pandai untuk diajak berbicara.
“Woy, apa kabar? Akhirnya lo kesini juga, bro.” Katanya sambil memelukku erat.
“Hehe.. baik do.” Balasku.
Entahlah aku sepertinya ingin sekali menjadi Edo. Seperti tidak ada beban di hidupnya. Hanya senyuman dan raut kebahagiaan yang terpancar darinya.
        Langsung saja, kami pergi meninggalkan stasiun itu dengan motor. Edo mengajakku untuk berkeliling kota Purwakarta saat itu. Gila. Kota ini benar-benar berbeda saat aku beberapa tahun pergi kesini. Bahkan saat aku keluar dari stasiun tadi, aku langsung disuguhi pemandangan dua gedung klasik yang bernama Nakula dan Sadewa. Serta terdapat sebuah patung orang yang bernama Raden Kian Santang. Aku benar-benar takjub dengan kota kecil ini. Banyak sekali hal-hal yang dapat membuat mataku tak mau berkedip sekalipun. Unsur kebudayaan di kota ini masih melekat. Meskipun kini, bangunan-bangunan pencakar langitpun mulai menjulang disekitarnya.
        Sesampainya di rumah Edo, aku bersalaman dengan Paman dan Tanteku serta dengan ke-2 adik Edo yang masih kecil. Sesaat itu, kami pergi ke lantai dua menuju kamar Edo. Dari jendela yang ada dikamar itu, mataku benar-benar terpana kembali. Hamparan perkebunan yang cukup luas berada di depan mataku. Seketika, memoriku memutar lagi kenangan lama yang dulu pernah terjadi. Saat aku dan Sarah pergi bersama ke Lembang. Berlari-larian bersama di kebun teh, makan siang bersama, serta menghabiskan seluruh hari itu hanya bersamanya. Kenangan itu benar-benar masih bisa aku rasakan. Entah, sudah berapa lama aku menikmati memori itu hingga akhirnya air mata jatuh dari kedua mataku. Edo yang berada dibelakang membisikkan sesuatu hal padaku.
“Gue bisa merasakan apa yang lu rasain. Gue pengen lu kesini itu untuk bisa mulai lagi sesuatu yang baru. No more tears and no more pain, bro.”

#
        Sinar matahari pagi mulai memasuki celah-celah kamar. Edo mengajakku untuk mengikutinya saat itu. Kami beranjak turun dari kamar menuju perkebunan yang berada di belakang rumah. Tak beberapa lama Edo mengenalkanku pada teman-teman dekatnya. Ari dan Razak. Mereka tampak hangat terhadapku. Hingga pada akhirnya mereka mengajakku untuk berlarian disekitar perkebunan itu. Meski tingkah laku kami seperti anak kecil, namun dengan cara seperti ini aku mulai merasakan sesuatu yang baru.
        Sedari tadi kami sudah berlari-larian, mengembala kambing, serta pada akhirnya kami berhenti di sebuah sungai kecil yang ada disana. Kami berempat pun mulai berenang di sungai itu. Setelah itu, kami mencari beberapa jagung yang sudah siap di panen. Dan kemudian kami membakarnya. Sambil menunggu jagung matang, hal-hal lucu sering di lontarkan oleh Rozak. Ya, ia sepertinya memiliki bakat untuk menjadi seorang pelawak ditambah lagi karakteristik wajah yang benar-benar mendukung. Mungkin saja ia bisa menjadi Sule ataupun Komeng suatu hari nanti. Namun ia tetap menegaskan untuk tidak mau masuk ke dunia Entertaiment.
“Urang mah pengen jadi pengusaha siga bapaknya Edo. Ameh Emak sama Abah bisa hidup tenang mun geus kolot engke.”
“Amin” Jawab kami bertiga.
        Ya, Rozak merupakan seorang anak petani yang bekerja di perkebunan milik keluarga Edo. Meski demikian ia tetap percaya diri untuk memiliki masa depan yang cerah. Demi kedua orang tuanya, ia selalu berusaha keras agar mimpinya itu menjadi nyata. Tak heran, jika di sekolahnya selalu mendapatkan peringkat teratas.
        Tak terasa hari begitu cepat berlalu. Kami bertiga mulai beranjak dari tempat itu. Perlahan-lahan matahari mulai berganti posisi dari tempatnya. Dan suara-suara serangga kecil mulai terdengar. Di dalam hati aku sungguh berterimakasih pada Tuhan. Untuk sementara ingatanku tentangnya perlahan memudar…
#
        Hari itu perkebunan milik keluarga Edo sedang panen besar. Para pekerjapun begitu semangat. Begitupun dengan Rozak. Untuk waktu tertentu, ia sering membantu pekerjaan orangtuanya itu. Melihatnya begitu semangat, Aku, Edo, dan Ari pun langsung turun tangan membantu. Sesuatu hal lucu terjadi saat itu, ya bahan tawanya itu menimpa padaku. Karena ini hal pertama yang baru aku lakukan, Rozak kemudian melontarkan suatu hal padaku.
“Nih, kerja teh harus kaya gini. Erdi mah meuni lambat geuning siga keong wae.”
Alhasil guyonan yang keluar dari mulut Rozak berhasil membuat orang-orang sekitar tertawa. Aku yang dijadikan bahan guyonan Rozakpun hanya tersenyum sedikit. Ingin rasanya membalas omongan itu, tapi berpikir-pikir lagi sungguh melegakan bisa melihat orang-orang tertawa disaat pekerjaan keras harus segera diselesaikan.
        Aku, Edo, dan Ari memutuskan untuk beristirahat sejenak. Disisi lain, Rozak masih bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Sehingga, hanya kami bertiga yang mulai beranjak dari perkebunan itu menuju rumah pohon yang tak begitu jauh dari sana. Di atas, kami bertiga duduk sambil meminum teh hangat dan sepiring pisang goreng. Untuk beberapa saat suasana begitu tenang karena kami sedang menikmati waktu istirahat, namun seketika semua berubah saat Ari memulai pembicaraan.
“Er, bukannya gue mau kepo tapi gue rasa ada hal-hal yang lu pendam selama ini.”
“Hm… enggak kok.” Balasku singkat.
“Udah jujur aja kali, Er. Takutnya aja si Ari ini bisa ngebantuin lo.” Sahut Edo.
“Kalo itu terlalu privasi lebih baik emang gak usah dibicarain.” Jawab Ari.
        Aku menimbang-nimbang untuk beberapa saat. Tapi aku yakin jika aku bisa berbagi mengenai pengalamanku ini, mungkin saja ada jalan keluar mengenai permasalahanku itu. Ya aku percaya. Akhirnya aku mulai menceritakan semua pada mereka. Dari pertama aku mulai mencintai Sarah, hingga akhirnya cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan saja. Memang salahku telah menaruh harapan lebih padanya, sehingga sulit bagiku untuk berpaling ke lain hati. Dan hal yang terberat yang sulit aku lalui, ketika aku dan Sarah sudah lagi tidak berkomunikasi satu sama lain. Sehinga itu adalah puncak kesedihanku hingga saat ini.
        Setelah beberapa lama aku menceritakan kejadian itu, Ari mulai membuka mulut.
“Gua bisa memahami perasaan sakit itu. Seharusnya lu bersyukur dan menyadari mengapa Tuhan memisahkan kalian. Satu-satunya alasannya itu ialah karena lu dan dia tidak pantas untuk bersama.”
        Perkataan Ari tadi mulai merasuki segala pikiranku. Apa yang ia kata bisa jadi benar. Namun aku masih tetap yakin pada pendirianku dan membalas perkataanya.
“Tapi bukannya Tuhan akan menguji kita sehingga untuk beberapa saat kita dipisahkan satu sama lain, bukan?”.
“Masalahnya adalah Tuhan akan menguji pasangannya yang satu sama lainnya saling mencintai. Sementara dalam permasalahan ini, hanya kamu seorang yang mencintainya.” Balas Edo dengan nada yang cukup tinggi.
        Seketika aku tidak lagi mampu berkata-kata. Perkataan Edo tadi sudah cukup menyadarkanku. Bahwa selama ini cintaku hanyalah bertepuk sebelah tangan. Aku mulai meyakininya saat ini. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mataku. Hal yang aku yakini selama ini tak seperti harapanku sebelumnya. Ya, aku hanyalah seorang penggemarnya yang keberadaannya tak pernah ia hiraukan.
        Sudah cukup lama kami bertiga berada di pembicaraan santai yang penuh argumentasi ini. Banyak hal-hal baik yang bisa aku jadikan motivasi hidup. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti, cinta tak selamanya harus memiliki.
#
        Lima hari sudah aku berada di kota ini. Malam ini adalah malam terakhirku berada disini. Mereka mengajakku untuk pergi ke pusat kota, yang selalu ramai di setiap malam minggu tiba. Wisata Kuliner. Ya, hampir beratus-ratus orang bahkan lebih memadati tempat itu. Jalanan-jalanan kendaraan mulai ditutup. Dan panggung-panggung kecil itu sudah mulai hidup dengan berbagai kesenian Sunda.
        Aku tak mau kehilangan waktu kebersamaan kita ini yang akan berakhir sebentar lagi. Lalu, aku mengeluarkan handphoneku dan berfoto bersama dengan mereka. Seketika aku melihat hasilnya, hatiku kembali berdebar-debar. Di foto itu sekilas ada seseorang yang mirip dengan Sarah. Tak perlu berpikir panjang, aku lari menuju tempat ia tadi lewat. Tidak peduli dengan padatnya orang yang ada saat itu, aku tetap memaksa diri untuk mencarinya. Hingga pada akhirnya, aku meletakkan tanganku itu pada punggungnya dan membuatnya berbalik arah.
        Aku hanya terdiam saat itu. Mataku tidak henti-hentinya memandang wajahnya. Sepasang bola mata yang hitam besar itu kini benar-benar berada didepan ku. Suara-suara riuhpun seperti tak terdengar lagi. Aku hanya terfokus pada dirinya yang sedari tadi juga hanya memandangku. Perlahan-lahan air mataku juga keluar. Seketika dia memelukku begitu erat. Dan tak ku kira dia pun menangis dipelukanku. Beberapa saat, aku mulai melepaskan pelukan eratnya itu. Aku tersadar dengan apa yang aku perbuat ini hanya semakin membuatku tambah sakit. Aku berjalan meninggalkannya. Dia tetap terdiam dan masih mengeluarkan air mata. Dari kejauhan dia meneriakkanku sesuatu.
“Erdi.. maafkan aku..”
        Aku hanya terus berjalan agar segera meninggalkan tempat itu. Tidak sudi aku mendengarkan kata-katanya lagi. Kini aku hanya ingin menikmati kegembiraan ditengah kesedihan menyelimutiku.
#
        Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Suara kicauan burung menghidupkan suasan pagi itu. Aku berjalan menuju sungai kecil yang tak jauh dari perkebunan. Dari belakang, seseorang telah mengikutiku. Dan ternyata itu Edo.
“Sudahlah jangan bersedih terlalu lama.” Katanya.
“Enggak kok” Balasku singkat.
“Bagus…” Jawabnya sambil melepaskan senyum padaku.
        Ya, aku tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padaku bila Ibu tak menyuruhku kesini. Disini aku telah belajar banyak. Dan merasakan kembali aku yang dulu sebelum jatuh ke lubang yang dalam. Disini… Dibawah langit Purwakarta aku baru menyadari, jika cinta tak akan selamanya berakhir bahagia.




Unknown

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow SORA on Twitter or read the blog.

0 comments:

Special offer

Contact us