• Artists of the City

    Meet passionate designers at their studio in downtown New York City. Get a glimpse of what they are working on and enjoy their paintings, photography and designs.

    Friday - Sunday from 10am - 8pm

  • Great things to do

    Visit our city and check out all the attractions. Go on your favorite trip and enjoy sightseeing, shopping, museums, sports and concerts. There is something for everyone.

    Make sure to get tickets in advance.

  • Take a tour

    There are plenty of places to go to! You can use the subway, rail, bus or ferry to get to your destination. Visit the MTA website and use the Trip Planner to check the schedules.

    The Trip Planner is now available for your mobile.

Cerpen : Di Bawah Langit Purwakarta

Posted by Unknown in


“Yah, seperti yang kita semua tahu, satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan patah hati adalah waktu-atau orang baru.” –Nina Ardianti, Restart.
        Sebuah kesalahan besar jika aku harus mengakhiri hidupku ini, hanya karena cinta yang tidak terbalaskan. Padahal jauh sebelum aku mengenalnya, aku masih bisa menjalani hidup tanpa adanya beban. Bahkan saat itu aku benar-benar merasakan indahnya kehidupan. Sebelum akhirnya, aku terperangkap pada buaian cinta palsunya.
        Tidak bisa dipungkiri lagi, kesedihanku ini hanya bisa aku rasakan sendiri. Aku tidak mau orang-orang sekitarku mengetahui kelemahanku ini. Bahkan aku tidak mau orangtuaku tau apa yang aku rasakan. Tapi sepertinya, mereka pun bisa merasakan jika ada sesuatu masalah yang sedang aku hadapi sendiri ini. Dan merekapun tidak mau melihat aku selalu diam dan lebih senang menyendiri di dalam kamar. Ibu menyuruhku untuk pergi liburan ke sebuah kota yang tidak jauh dari Bandung. Purwakarta. Aku tidak mengetahui terlalu banyak tentang kota itu, tapi aku langsung menyetujui permintaan Ibu.
        Aku pergi kesana menggunakan kereta. Perjalananpun tidak akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Satu jam lebih, aku sampai di Stasiun Purwakarta. Edo, sepupuku telah menunggu disana. Ya, untuk beberapa hari ke depan, aku akan tinggal di rumah Edo. Umurnya tidak jauh berbeda denganku, dia memiliki sifat yang benar-benar ramah dan juga pandai untuk diajak berbicara.
“Woy, apa kabar? Akhirnya lo kesini juga, bro.” Katanya sambil memelukku erat.
“Hehe.. baik do.” Balasku.
Entahlah aku sepertinya ingin sekali menjadi Edo. Seperti tidak ada beban di hidupnya. Hanya senyuman dan raut kebahagiaan yang terpancar darinya.
        Langsung saja, kami pergi meninggalkan stasiun itu dengan motor. Edo mengajakku untuk berkeliling kota Purwakarta saat itu. Gila. Kota ini benar-benar berbeda saat aku beberapa tahun pergi kesini. Bahkan saat aku keluar dari stasiun tadi, aku langsung disuguhi pemandangan dua gedung klasik yang bernama Nakula dan Sadewa. Serta terdapat sebuah patung orang yang bernama Raden Kian Santang. Aku benar-benar takjub dengan kota kecil ini. Banyak sekali hal-hal yang dapat membuat mataku tak mau berkedip sekalipun. Unsur kebudayaan di kota ini masih melekat. Meskipun kini, bangunan-bangunan pencakar langitpun mulai menjulang disekitarnya.
        Sesampainya di rumah Edo, aku bersalaman dengan Paman dan Tanteku serta dengan ke-2 adik Edo yang masih kecil. Sesaat itu, kami pergi ke lantai dua menuju kamar Edo. Dari jendela yang ada dikamar itu, mataku benar-benar terpana kembali. Hamparan perkebunan yang cukup luas berada di depan mataku. Seketika, memoriku memutar lagi kenangan lama yang dulu pernah terjadi. Saat aku dan Sarah pergi bersama ke Lembang. Berlari-larian bersama di kebun teh, makan siang bersama, serta menghabiskan seluruh hari itu hanya bersamanya. Kenangan itu benar-benar masih bisa aku rasakan. Entah, sudah berapa lama aku menikmati memori itu hingga akhirnya air mata jatuh dari kedua mataku. Edo yang berada dibelakang membisikkan sesuatu hal padaku.
“Gue bisa merasakan apa yang lu rasain. Gue pengen lu kesini itu untuk bisa mulai lagi sesuatu yang baru. No more tears and no more pain, bro.”

#
        Sinar matahari pagi mulai memasuki celah-celah kamar. Edo mengajakku untuk mengikutinya saat itu. Kami beranjak turun dari kamar menuju perkebunan yang berada di belakang rumah. Tak beberapa lama Edo mengenalkanku pada teman-teman dekatnya. Ari dan Razak. Mereka tampak hangat terhadapku. Hingga pada akhirnya mereka mengajakku untuk berlarian disekitar perkebunan itu. Meski tingkah laku kami seperti anak kecil, namun dengan cara seperti ini aku mulai merasakan sesuatu yang baru.
        Sedari tadi kami sudah berlari-larian, mengembala kambing, serta pada akhirnya kami berhenti di sebuah sungai kecil yang ada disana. Kami berempat pun mulai berenang di sungai itu. Setelah itu, kami mencari beberapa jagung yang sudah siap di panen. Dan kemudian kami membakarnya. Sambil menunggu jagung matang, hal-hal lucu sering di lontarkan oleh Rozak. Ya, ia sepertinya memiliki bakat untuk menjadi seorang pelawak ditambah lagi karakteristik wajah yang benar-benar mendukung. Mungkin saja ia bisa menjadi Sule ataupun Komeng suatu hari nanti. Namun ia tetap menegaskan untuk tidak mau masuk ke dunia Entertaiment.
“Urang mah pengen jadi pengusaha siga bapaknya Edo. Ameh Emak sama Abah bisa hidup tenang mun geus kolot engke.”
“Amin” Jawab kami bertiga.
        Ya, Rozak merupakan seorang anak petani yang bekerja di perkebunan milik keluarga Edo. Meski demikian ia tetap percaya diri untuk memiliki masa depan yang cerah. Demi kedua orang tuanya, ia selalu berusaha keras agar mimpinya itu menjadi nyata. Tak heran, jika di sekolahnya selalu mendapatkan peringkat teratas.
        Tak terasa hari begitu cepat berlalu. Kami bertiga mulai beranjak dari tempat itu. Perlahan-lahan matahari mulai berganti posisi dari tempatnya. Dan suara-suara serangga kecil mulai terdengar. Di dalam hati aku sungguh berterimakasih pada Tuhan. Untuk sementara ingatanku tentangnya perlahan memudar…
#
        Hari itu perkebunan milik keluarga Edo sedang panen besar. Para pekerjapun begitu semangat. Begitupun dengan Rozak. Untuk waktu tertentu, ia sering membantu pekerjaan orangtuanya itu. Melihatnya begitu semangat, Aku, Edo, dan Ari pun langsung turun tangan membantu. Sesuatu hal lucu terjadi saat itu, ya bahan tawanya itu menimpa padaku. Karena ini hal pertama yang baru aku lakukan, Rozak kemudian melontarkan suatu hal padaku.
“Nih, kerja teh harus kaya gini. Erdi mah meuni lambat geuning siga keong wae.”
Alhasil guyonan yang keluar dari mulut Rozak berhasil membuat orang-orang sekitar tertawa. Aku yang dijadikan bahan guyonan Rozakpun hanya tersenyum sedikit. Ingin rasanya membalas omongan itu, tapi berpikir-pikir lagi sungguh melegakan bisa melihat orang-orang tertawa disaat pekerjaan keras harus segera diselesaikan.
        Aku, Edo, dan Ari memutuskan untuk beristirahat sejenak. Disisi lain, Rozak masih bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Sehingga, hanya kami bertiga yang mulai beranjak dari perkebunan itu menuju rumah pohon yang tak begitu jauh dari sana. Di atas, kami bertiga duduk sambil meminum teh hangat dan sepiring pisang goreng. Untuk beberapa saat suasana begitu tenang karena kami sedang menikmati waktu istirahat, namun seketika semua berubah saat Ari memulai pembicaraan.
“Er, bukannya gue mau kepo tapi gue rasa ada hal-hal yang lu pendam selama ini.”
“Hm… enggak kok.” Balasku singkat.
“Udah jujur aja kali, Er. Takutnya aja si Ari ini bisa ngebantuin lo.” Sahut Edo.
“Kalo itu terlalu privasi lebih baik emang gak usah dibicarain.” Jawab Ari.
        Aku menimbang-nimbang untuk beberapa saat. Tapi aku yakin jika aku bisa berbagi mengenai pengalamanku ini, mungkin saja ada jalan keluar mengenai permasalahanku itu. Ya aku percaya. Akhirnya aku mulai menceritakan semua pada mereka. Dari pertama aku mulai mencintai Sarah, hingga akhirnya cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan saja. Memang salahku telah menaruh harapan lebih padanya, sehingga sulit bagiku untuk berpaling ke lain hati. Dan hal yang terberat yang sulit aku lalui, ketika aku dan Sarah sudah lagi tidak berkomunikasi satu sama lain. Sehinga itu adalah puncak kesedihanku hingga saat ini.
        Setelah beberapa lama aku menceritakan kejadian itu, Ari mulai membuka mulut.
“Gua bisa memahami perasaan sakit itu. Seharusnya lu bersyukur dan menyadari mengapa Tuhan memisahkan kalian. Satu-satunya alasannya itu ialah karena lu dan dia tidak pantas untuk bersama.”
        Perkataan Ari tadi mulai merasuki segala pikiranku. Apa yang ia kata bisa jadi benar. Namun aku masih tetap yakin pada pendirianku dan membalas perkataanya.
“Tapi bukannya Tuhan akan menguji kita sehingga untuk beberapa saat kita dipisahkan satu sama lain, bukan?”.
“Masalahnya adalah Tuhan akan menguji pasangannya yang satu sama lainnya saling mencintai. Sementara dalam permasalahan ini, hanya kamu seorang yang mencintainya.” Balas Edo dengan nada yang cukup tinggi.
        Seketika aku tidak lagi mampu berkata-kata. Perkataan Edo tadi sudah cukup menyadarkanku. Bahwa selama ini cintaku hanyalah bertepuk sebelah tangan. Aku mulai meyakininya saat ini. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mataku. Hal yang aku yakini selama ini tak seperti harapanku sebelumnya. Ya, aku hanyalah seorang penggemarnya yang keberadaannya tak pernah ia hiraukan.
        Sudah cukup lama kami bertiga berada di pembicaraan santai yang penuh argumentasi ini. Banyak hal-hal baik yang bisa aku jadikan motivasi hidup. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti, cinta tak selamanya harus memiliki.
#
        Lima hari sudah aku berada di kota ini. Malam ini adalah malam terakhirku berada disini. Mereka mengajakku untuk pergi ke pusat kota, yang selalu ramai di setiap malam minggu tiba. Wisata Kuliner. Ya, hampir beratus-ratus orang bahkan lebih memadati tempat itu. Jalanan-jalanan kendaraan mulai ditutup. Dan panggung-panggung kecil itu sudah mulai hidup dengan berbagai kesenian Sunda.
        Aku tak mau kehilangan waktu kebersamaan kita ini yang akan berakhir sebentar lagi. Lalu, aku mengeluarkan handphoneku dan berfoto bersama dengan mereka. Seketika aku melihat hasilnya, hatiku kembali berdebar-debar. Di foto itu sekilas ada seseorang yang mirip dengan Sarah. Tak perlu berpikir panjang, aku lari menuju tempat ia tadi lewat. Tidak peduli dengan padatnya orang yang ada saat itu, aku tetap memaksa diri untuk mencarinya. Hingga pada akhirnya, aku meletakkan tanganku itu pada punggungnya dan membuatnya berbalik arah.
        Aku hanya terdiam saat itu. Mataku tidak henti-hentinya memandang wajahnya. Sepasang bola mata yang hitam besar itu kini benar-benar berada didepan ku. Suara-suara riuhpun seperti tak terdengar lagi. Aku hanya terfokus pada dirinya yang sedari tadi juga hanya memandangku. Perlahan-lahan air mataku juga keluar. Seketika dia memelukku begitu erat. Dan tak ku kira dia pun menangis dipelukanku. Beberapa saat, aku mulai melepaskan pelukan eratnya itu. Aku tersadar dengan apa yang aku perbuat ini hanya semakin membuatku tambah sakit. Aku berjalan meninggalkannya. Dia tetap terdiam dan masih mengeluarkan air mata. Dari kejauhan dia meneriakkanku sesuatu.
“Erdi.. maafkan aku..”
        Aku hanya terus berjalan agar segera meninggalkan tempat itu. Tidak sudi aku mendengarkan kata-katanya lagi. Kini aku hanya ingin menikmati kegembiraan ditengah kesedihan menyelimutiku.
#
        Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Suara kicauan burung menghidupkan suasan pagi itu. Aku berjalan menuju sungai kecil yang tak jauh dari perkebunan. Dari belakang, seseorang telah mengikutiku. Dan ternyata itu Edo.
“Sudahlah jangan bersedih terlalu lama.” Katanya.
“Enggak kok” Balasku singkat.
“Bagus…” Jawabnya sambil melepaskan senyum padaku.
        Ya, aku tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padaku bila Ibu tak menyuruhku kesini. Disini aku telah belajar banyak. Dan merasakan kembali aku yang dulu sebelum jatuh ke lubang yang dalam. Disini… Dibawah langit Purwakarta aku baru menyadari, jika cinta tak akan selamanya berakhir bahagia.




Hujan Di Bulan Oktober

Posted by Unknown in



Suatu hari di ujung sebuah bukit
Bersama dirinya memandang sekitar
Menikmati segala ketenangan jiwa
Ditemani hembusan angin yang menggerakkan bunga-bunga
Perlahan angin-angin itu semakin kencang
Membawa awan hitam menuju tempat itu
Langit yang cerah berubah gelap
Angin yang liar menghempaskan kita berdua
Kau minta pergi dari tempat itu
Namun aku ingin kita menetap
Belum sempat ku genggam tanganmu
Kau berjalan jauh meninggalkan aku
Hujan turun begitu deras
Membasahi setiap sudut dari tempat itu
Sesekali ku menutup mataku
Dan membukanya berharap kau memelukku dari belakang
Sudah cukup lama air hujan menimpa diriku
Meninggalkan luka perih bagi jiwa
Air mata yang mulai tak terkendalikan
Nuansa Hujan di Bulan Oktober

THE BEST THING EVER I HAD

Posted by Unknown in


            Howdy guys… Seems like i rarely make a new post here. But don't worry i'll do it now. I can't believe that i've through my first year on senior high school. Therefore right now i wanna post some of my best memories with all the best friends i ever had on my class with named TEENLUCIOUS (TEENager Love Unite beCause It's Our Symbol).
I got beautiful experiences with all my classmate. They were so awesome, crazy, and of course kind to each other. For the first time, since i entered the class i was feeling not comfortable being there. I probably still did not able to adapt to new situations. Although the most of person on there I had known before, because they were came from the same Junior School. I still remember the first person that I met is Sari Wiharto. That time she sat behind me. She came from SMPN 3 DARANGDAN. Oh yeah… almost forgot since I entered that favorite school in my town, my parents were so proud to me. They looked so shocked of all I’ve done. Such as I did registration so early, at 2AM I did the first registration on Internet. Oke that’s the chronology but I won’t told more it right now. Haha… I couldn’t believe that my first chairmate on there was the same chairmate when I was on second year in Junior School. Yeah he’s Muhammad Regi Fauzan. There’s nothing different from him for the first time, but the longer I had found something different from him. But I won’t tell it to you, because he’s my best friend ever I had. And I did’nt forget about my first homeroom in Senior High School. He’s Mr. Encep Siswoyo. He’s our physics teacher. And he looks so care and so kind to us. That time our class got the worst achievement as Dirtiest Class and you know the notification told infront of all the students during the ceremony. Our homeroom advised us until his time ended. I always remember every words those he said that time. But the most I really like this “Jagoan itu kalah duluan”. Well, his advised really works, another ceremony our class got The Cleanest Class.
            We couldn’t believe that on our way we could met and knew our new friend. She came from Pei Hwa Secondary, Singapore. Their came for twinning programme. Her name’s Aisyah Atiqah. She was younger than us. I still remember that time, when she came to the class All of the attention just for her. She’s so really beautiful and sweet… hehe. But she entered our class just for a few hours, maybe it was a rule of our school. So she spent most of her time with her friends in another room. There were some events when our sister school came in, such as Economic Day and Pekan Bahasa. Of course our class was following all the events. I really enjoyed on Economic Day, I didn’t know why. Maybe because I missed a cake that our class made that time. It’s called SweetBall. The taste so yummy and really sweet as the cake’s name. Another day, I really remember that it was on Friday Aisyah entered our class. And couldn’t believe it almost all the lesson free. That was good time for us to know more her. We gave her some questions and she answered all of them patiently. She likes dancing, therefore we said that she had to show it infront of class. And she did it. We record everything that she did. And it was really beautiful. Because that was the last day for us together, so all of us asked her for took a picture with her. And she did it. She also gave us a Letter, it was so emotions.. Well, we just wanted to say thank you for being a part of us Aisyah Atiqah. J
            On second semester, couldn’t believe it that our homeroom changed. Mr. Aan Harisman replaced Mr Encep Siswoyo position on our class. It doesn’t matter because he looks so care and very kind to us. On this semester, I got new chairmate. Yeah he’s Muhammad Adrians Ramdhani. He looks better than my last chairmate. Hehe just kidding regi. Also on these semester, I thought there were so many tasks for us. Such as Drama, Cabaret, and Traditional dance. But we enjoyed it all, because we were students. That was our duty. But on this semester, I’ll miss the last days we were together. Especially with all the boys. I won’t forget the time we sang together, it was precious and I never regret it, guys…  I also missed when we were Hiking. I really feel everything that we've been through together, and unity among each other. Smile, Laugh, and Had fun around us that time. Thank you guys for a year. Had known you is the best thing that ever I had. You’re awesome! I won’t forget a piece memories with all of you. I wish I could had a stop button. I just want all we’ve done before could back for a second times. But time moves so quickly, and it’s impossible to wish something that never be true! Good bye, and don’t forget all the memories that we made it together. J


"OUR MEMORIES ARE NEVER GETTING OLD, OUR MEMORIES WILL LIVE FOREVER"

Sim-Sam-Sim (Gerbang Akhir Suku Quilete)

Posted by Unknown in




“Suku Quilete yang merupakan pendatang baru di Kota St. Paradise bertindak dengan tidak manusiawi. Mereka membunuh dengan kejam semua budak-budak yang saat itu memang telah menetap di St. Paradise. Hingga pada akhirnya Roh-roh penasaran itu ingin sekali membalaskan dendamnya pada mereka…”

            Banyak kenangan-kenangan telah aku ukir di Velia. Kukira aku akan selamanya menetap di kota ini sampai tua nanti. Namun kini bayanganku itu telah sirna, kedua orangtua ku memutuskan untuk pindah ke sebuah kota di pelosok barat Negara ini. St.Paradise. Kota kecil yang dihuni oleh 1546 kepala keluarga ini masih banyak terdapat hutan-hutan lebat. Walaupun kota ini tidak se-Modern Velia namun aku harus mencoba mencintai kota ini.
            Ayah mengantarkanku ke sebuah gedung besar disana. Sebuah plang berdiri kokoh di depannya dan bertuliskan “St.Paradise High School”. Ya, sekolah ini lebih besar daripada sekolahku yang dulu di Velia. Apalagi sekolah ini hamper semuanya dikelilingi oleh pohon-pohon pinus besar. Luar biasa. Ayah mengantarkanku ke ruang informasi dan mengurus segalanya. Aku duduk di sofa dekat ruangan itu, dan tak berapa lama seorang wanita tua bersama ayah datang menghampiriku. Wanita tua itu memperkenalkan dirinya padaku “Hai selamat datang di sekolah barumu ini. Namaku Christine Jorg. Kau dapat memanggilku Nyonya Tine.” Dan akupun membalasnya “Terimakasih. Kau sangat hangat sekali padaku.” Tak berapa lama Ayah pamit, karena merasa yakin bahwa aku dapat berbaur bersama Nyonya Tine. Setelah itu ia memberikanku sebuah lembaran kertas yang berisikan Mata Pelajaran dan juga menyodorkan kunci loker padaku. Ia mengantarkanku tepat dimana lokerku berada dan pamit meninggalkanku. Ramah sekali dirinya.
            Cuaca cukup hangat disini, dan kukira Jaket ini lebih baik ku simpan di loker. Tak berapa lama dering bel berbunyi, saat kuperiksa jadwal untuk jam pertama kelasku sekarang adalah Sejarah. Aku bingung dimana kelas sejarah berada. Aku takut telat masuk kelas itu. Tapi tiba-tiba seseorang menyapaku hangat. “Hai, kau anak baru ya?” lalu akupun membalas pertanyaannya “Hai, iya benar.” Dari situ aku mengetahui ia bernama Anna. Ternyata ia memiliki jadwal yang sama dengan diriku. Saat kami dalam perjalanan menuju kelas Sejarah dari belakang seseorang berlari terburu-buru dan berteriak memanggil nama “Anna….” . Anna memalingkan kepalanya, percakapan-percakapan kecil sedang mereka lakukan. Aku hanya mendengarkan sedikit dari obrolan itu, yang banyak sekali aku dengar dari ucapan anak lelaki berambut keriting pirang itu adalah tentang Suku Quilete. “Anna apakah kita tidak akan telat?” Gerutuku padanya. “Kelas sejarah tepat ada di depan kita. Lihat Tuan Schuee belum datangkan?” Jawabnya sambil melepaskan senyum. Bodohnya aku, tidak pernah melihat sekitar dengan teliti…
            Kelas ini berisikan 20 Orang saja, jadi aku mulai mudah menghafal teman-teman baruku itu yang ada di kelas sejarah. Kini aku mulai berbaur dengan Anna dan teman laki-lakinya itu Sam. Setelah jam Sejarah selesai, segerombolan anak yang berjumlah 6 orang itu menghampiri kami. Mereka terlihat hangat padaku juga pada Sam dan Anna. Mereka mengajak kami untuk mengikuti perkemahan di hutan Lebiour. Aku menyetujuinya, namun terlihat rasa ingin menolak dari raut wajah Sam. Namun pada akhirnya kami menerima tawaran mereka.
            Aku telah menyediakan barang-barang yang harus kubawa, di depan rumah bunyi klakson mobil terdengar. Kulihat dari jendela, Sam dan Anna melambaikan tangan mereka menyapaku. Aku segera turun dan pamit kepada Ayahku. Di perjalanan, ada 2 mobil yang sama berada di depan kami. Ya, mereka segerombolan anak yang mengajak kami itu. “Praveen, pada intinya disana kita harus tetap waspada. Aku harap kau tidak berada jauh dari kami. Ini kapur jangan sampai hilang. Benda ini begitu penting bagi kita!” Kata Sam padaku. Aku tidak mengerti apa yang mereka maksud, namun ia tak ingin membicarakannya lebih.
            Setelah berjalan dengan menggunakan mobil, kami segera memberhentikan mobil kami di suatu tempat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ladang bunga-bunga Lavender berada di depan kami. Luar biasa aku baru pertama melihat pemandangan ini. Setelah melalui ladang itu, di depan terlihat sebuah gerbang tua yang sangat besar. Seseorang dari gerombolan itu membukannya, dan kami mulai memasuki kawasan itu.
            Langit gelap menyelimuti tenda-tenda kami. Suasana malam begitu terasa di sekitarku sekarang ini. Suara-suara serangga kecil dan hembusan angin malam semakin membuat bulu-bulu tanganku berdiri. Kami semua berada di sekitar api unggun, namun tiba-tiba seseorang dari kami mengusulkan untuk melakukan ritual yang belum pernah aku ketahui. Aku tak tau ritual apa yang akan kami lakukan, raut tidak setuju jelas terlihat dari Aku, Sam, dan Anna. Namun mereka menjelaskan bahwa ritual itu adalah tabu semata.
            “Sim….sam…sim…sim…sam…sim…sim…sam…sim” Kata-kata itu yang aku dengar. Suaranya menggema dimana-mana. Bulu-bulu tanganku berdiri ketakutan, pohon-pohon disekitar kamipun terhempaskan oleh angin-angin yang timbul tiba-tiba. Sekejap gaungan mantra itu tidak terdengar lagi, salah satu gerombolan yang bernama Daniel berkata “Lihat! Tak ada yang terjadi. Benar kan?” lalu, Rosalie yang juga bagian dari gerombolan itu membalasnya “Haha ini hanya mantra tabu. Dan benar tak ada yang terjadi.” Namun tak berapa lama dari ucapan Rosalie tadi, sepucuk surat yang terbawa angin tepat jatuh di dekat Rosalie. Saat itu ia langsung membukanya dan tertulislah “Eat your words”. Kulihat ia terlihat tegang namun saat itu Daniel memanggilnya untuk melihat sepucuk kertas itu, baru saja ia berdiri “Aaahhhhh” sebuah tombak dari belakang tepat menembus perut Rosalie. Cucuran darah merah segar keluar dari sekujur tubuh Rosalie. Semua orang yang berada disekitar itu panic dan ketakutan. Sama sepertiku. Sam yang berada di sebelahku mengambil alih untuk menjagaku dan Anna. Aro salah satu gerombolan itu kembali mengeluarkan perkataan yang tidak pantas “Shit! Son of a bitch! Keluarlah! Kalian pada hakikatnya hanya budak-budak tak berguna.” Kembali saat kami terlihat panic sepucuk surat terbawa oleh angin dan tepat berada di dekat Aro. Saat ia mengambilnya tertulislah “I’ll do my best, Just for you!” dan saat itu sebuah kapak mendekat menuju Aro, naas kapak itu memotong kepalanya yang bergelinding seperti bola.
            Kami berlari ketakutan saat melihat kejadian Aro tadi, Kami terpisah satu sama lain. Aku tetap bersama Anna, Sam, dan salah satu dari gerombolan itu Daniel. Kami tetap berlari ditengah kegelapan dan kesunyian hutan Lebiour. Anna terjatuh lunglai, Daniel yang terlihat ketakutan dan panic melontarkan omongan yang pedas “Anna bangunlah, bodoh! Kau mau kita mati? Cepat!” Anna yang menangis menjawabnya “Bedebah, Tolol! Jika kalian tidak menyanyikan mantra tadi ini semua tak akan terjadi!” Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat sejenak. Lolongan serigala-serigala membuat malam itu semakin mengerikan. “Baiklah ayo kita cari jalan keluar dan mencari bantuan” Kataku memecahkan keheningan malam itu. Semua setuju. Sam yang berdiri di depan kami, memimpin penjelajahan menakutkan ini.
            Mungkin telah sejam lebih kami berjalan, kami tak menemukan jalan keluar. Namun keheningan malam itu kembali membuat bulu-bulu tangan kami berdiri. Teriakan-teriakan kesakitan yang berada di dekat jejak menambah ketakutan kami. Kami berlari mendekati tempat dimana suara itu berada. Tepat saat kami sampai di tempat itu kami tercengang. Ke empat kawan kami yang terpisah itu mati secara tragis. Kepala-kepala mereka terikat rapih di atas dahan-dahan pohon. Sementara api yang berada di bawah pohon tersebut membakar tubuh-tubuh mereka. Aroma seperti babi bakar jelas menyerbak sekitar itu. Air mata tak henti-hentinya jatuh dari sepasang bola mata kami.
            Kami meninggalkan tempat itu, dan mencari jalan keluar. Kulihat arlojiku kini tepat pukul 3 dini hari. Namun kondisi hutan tetap gelap dan sunyi. Sam tiba-tiba berbicara sesuatu “Lihat! Ada orang disana!” tunjuknya. Daniel ketika mengetahuinya segera berlari menuju orang yang ditunjuk Sam. Namun saat Daniel memegang pundak orang itu rasa takut kembali datang. Seseorang berambut panjang, kusut, kurus, dan bola mata yang hanya ada satu itu menyimpan kedua tangannya dileher Daniel. Mengangkatnya perlahan dan cukup lama. Semakin lama Daniel sulit menghirup udara-udara masuk ke dalam hidungnya. Ketika itu suara-suara Daniel menghirup nafas tak terdengar lagi, dan orag itu melepaskannya dan membiarkannya jatuh tepat di atas tanah.
            Ia berjalan perlahan menghampiri kami, Sam menyuruhku membuat sebuah lingkaran menggunakan kapur. Sam kembali berada di posisi depan, Anna menggenggam kalung salib yang berada di lehernya sambil berkata-kata kecil. Dan aku, aku hanya merasakan ketakutan. Namun pandanganku tetap mengawasi orang yang ada di hadapan kami itu. “Apa maumu? Kami bukan salah satu dari mereka. Kami hanya pendatang baru sama seperti kalian dulu. Ingatlah kami bukan salah satu dari Suku Quilete.” Kata-kata itu keluar dari mulut Sam. Namun tetap saja orang itu berjalan menghampiri kami. Tawanya terbahak-bahak melenyapkan seluruh peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dalam hidup kami.
            Suara sirine mobil polisi membangunkan aku. Ayah memelukku dengan hati-hati. Kulihat Nyonya Tine berada disekitar bersama beberapa anggota polisi, Jurnalis, dan orang-orang lain. Anna dan Sam melepaskan senyumnya padaku. Terlihat jelas bahwa kita masih tak bisa melupakan pengalaman itu. Saat aku mulai berdiri dan melihat sekitar, ladang bunga Lavender yang sebelumnya terhampar luas kini berubah menjadi kuburan-kuburan yang luasnya hampir seluas ladang lavender itu. Roh-roh itu telah berhasil membalaskan dendamnya. Dan kini Suku Quilete telah berada di gerbang akhir kehidupannya.

Terlarut Dalam Mimpi

Posted by Unknown in




Aku tidak tau sudah sejauh apa aku berjalan
Dari satu kota ke kota lainnya
Dari matahari terbit hingga terbenam
Cukup jauh sudah aku berjalan

Beberapa peristiwa telah terlewatkan
Semua pergi sungguh cepat
Belum sempat aku menyadarinya
Namun semua tlah menjadi kenangan

Seperti menari-nari di ujung tebing
Aku terlarut dalam mimpi-mimpi
Segalanya kini telah hilang
Dan tak akan pernah kembali lagi...

Dear Rose

Posted by Unknown in




Here in the darkness
I was sat down
Thought something about you
I wish you beside me
Here in the darkness
I was lying down
Thought something about you
I wish you were here


There's only moon light around me
And the stars shining so bright
But what the hell who cares about me
Because I'm nothing... nothing


Dear you oh.. rose
I know I don't belong you
I just want you beside me
Hold my hand for the last
Dear you oh.. rose
I know I don't belong you
I just want you beside me
Seeing your smile for the last


Here in the darkness
I was closing my eyes
Thought something about you
I miss the old you baby
Here in the darkness
Seeing for the sky night
Thought something about you
I wish you were here someday

The Cave of Shadows

Posted by Unknown in







“Maukah kau menceritakan  pengalaman yang tak akan kau lupakan dari hidupmu?.” Kata seorang anak kecil.
“Uhuk.. boleh saja. Tapi kau memang bisa membayangkannya? Baiklah aku akan menceritakannya. Dengarkan baik-baik.” Jawabku
“Baiklah.. aku akan mendengarkannya dengan baik.” Balasnya penuh semangat.

            Saat itu kota ini sedang mengalami musim hujan. Setiap harinya selalu saja hujan. Bagi kami (Aku dan Kawan-kawanku) ini adalah hal yang membosankan. Kami tak bisa lagi bermain di sungai, mengelilingi hutan, dan hal-hal yang saat itu kami lakukan untuk menghabiskan waktu kami. Ketiga temanku itu sangat cerdik sekali. Makadari itu aku senang sekali jika menghabiskan waktu bersama mereka. Mereka adalah Grint, Jedediah, dan Petr.
            Pagi itu tidak seperti biasanya. Hujan tak memunculkan kekuasaanya. Dan matahari yang menggantikan posisinya kala itu. Petr tampak kegirangan saat mengetahuinya. “Terimakasih Lithium.. Kau memang yang mengetahui keinginan kami”. Raut riang gembira tampak terlihat dari muka kami. “Kalian tau, ini adalah waktu yang kita tunggu saat musim hujan mulai menyelimuti desa ini. Dan aku kira kita sudah lama tak pernah bermain di sungai. Aku sangat merindukan alirannya itu.” Perkataan itu terlontar dari mulut Grint. “Baiklah aku menyetujuinya! Aku juga benar-benar merindukan sungai kecil itu.” Jawab Petr yang juga mewakili perasaan kami semua,
            “Wir sind ein tapferer Junge. Durch üppig grünen Wald. Durchfluss am rauschenden Fluss. Und wieder zurück in das Haus zusammen. Denn wir sind ein tapferer Junge.” Nyanyian anak pemberani itu menemani kami dalam perjalan menuju hutan. Itulah yang biasa kami lakukan saat pergi ke hutan. Pohon-pohon pinus rindang menyelimuti kawasan itu. Suara-suara binatang-binatang kecil mulai menggema. Semakin jauh dari desa langit yang cerah perlahan meredup. Awan-awan hitam kini mulai saling menyatu terbawa oleh angin. Perlahan sinar-sinar terang yang terpancar dari celah-celah pohon itu mulai menghilang. “Kita tak ingin kembali ke desa atau masih ingin melanjutkan perjalanan ini?” Tanyaku. Perlahan langkah kaki kami terhenti. “Hmm.. Tapi kita sudah berjalan cukup jauh.” Jawab Jedediah yang terlihat lelah. “Baiklah kita melanjutkan saja perjalanan ini.” Jawab Petr menyetujui. Terlihat mereka semua menyetujui tanggapan Petr, akupun mengikuti kemauan mereka.
            Dari jauh gemercik air sungai mulai terdengar. Namun kegembiraan kami sejenak terhenti karena hujan mulai turun. Walaupun tidak begitu deras, namun kami masih bersemangat untuk bermain di sungai itu. Kami mulai terjun bermain air di sungai itu. Entah sudah berapa lama kami bermain di tempat ini, namun hujan kini begitu deras. Aliran sungai semakin keras dan kamipun lebih memilih untuk mengakhirinya daripada hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi.
            Beberapa dari kami mencari daun-daun besar sebagai pelindung dari kami. Menurutku daun-daun itu tidak penting karena tubuh kita sudah terlanjur basah kuyup. Derasnya hujan mempercepat langkah kaki kami. Arah kaki kami tidak sesuai dengan langkah kaki kami saat datang kesini. Entah kami berada dimana, namun didepan kami ada jalan setapak yang belum pernah kami lalui. “Sial. Sepertinya kita tersesat?.” Kata Jedediah. “Ahh.. lalu bagaimana? Bagaimana jika ada serigala atau harimau?.” Balas Grint panik. “Sudah jangan panik. Kita lalui bersama.” Kata Petr agar Grint tidak terlalu panik. Aku tidak merespond ocehan mereka. Namun kuakui aku sangat panik. Karena ini untuk pertama kalinya kami tersesat. “Baiklah sebaiknya kita ikuti semak-semak ini. Mungkin saja jalan ini juga mengarahkan kita ke desa.” Kata Jedediah.
            Akhirnya kami memutuskan melalui jalan setapak ini. Tumbuhan-tumbuhan liar menghalangi setiap jalan yang kami lalui. Hujanpun tak berhenti-hentinya turun. Entah sudah berapa lama kami berjalan, namun kini tampak di depan kami sebuah bangunan batu besar yang ditutupi belukar dan terlihat sangat gelap. Kian lama batuan itu semakin membuat kami ingin tau. Namun percuma jikalau kami ingin melihatnyapun semua akan tampak gelap. Tapi semua yang telah kami pikirkan itu salah besar. Saat baru saja Jedediah mencabut belukar-belukar yang menutupi lubang masuk itu, ruangan itu begitu terang. Meski disekelilingnya tak ada obor bahkan alat penerangan yang ada saat itu.
            “Oh Zeus… betapa indahnya tempat ini… LUAR BIASA!!” Lontaran itu keluar dari mulut Grint. Begitu juga dengan Petr dan Jedediah. Tapi tidak bagiku, semua begitu aneh dan tidak pernah terbayangkan. Saat ketiga dari mereka mulai berlari-lari menelusuri bangunan batu ini aku hanya terdiam saja di lubang mulut batu itu. Menunggu hujan berhenti. Dari jauh Petr berteriak “Ayo kemari! Tulis namamu disini!” namun aku diam saja tidak menghiraukan teriakan Petr.
            Semakin lama langit semakin gelap. Hujanpun kian mereda. Suasana di dalam batu besar inipun meredup. Aku bingung, Petr, Jedediah, dan Grint tak terdengar suaranya. “Kawan-kawan kalian dimana?.” Teriakku yang menggema diruangan itu. Beberapa kali aku berteriak juga tak ada balasan. Segera aku mulai menelusuri batu besar itu, namun perlahan tempat itu semakin aneh. Batuan-batuan yang tadi baru saja kulalui itu perlahan berubah. Tempat itu mulai berkilau. Emas-emas murni kini melapisi batuan besar ini. Perlahan mataku mulai tergiur dengan tempat ini, dari jauh aku melihat kawan-kawanku sedang berlari-lari. Saat aku ingin mulai pergi mendekati mereka, dari belakang terdengar langkah kaki yang perlahan mendekat padaku. Saat aku mulai memalik badanku dan........
            “Kau tidak apa-apa?” Kata seorang perempuan kecil yang kini berada dihadapanku. “Kau siapa? Kemana kawan-kawanku?” Jawabku mulai sadar. Iapun menjawabnya “Mereka telah pergi menuju desa. Mencari bantuan untuk menolongmu. Namun jika kau ingin pulang sekarang dengan senang hati akan aku antar.” Jawabnya dengan suara yang lembut.
            Aku menyetujui penawarannya. Diperjalanan aku tidak terlalu banyak berbicara, begitu juga dengannya. Ia terlihat seperti anak berumur 7 tahun, berambut ikal pendek dan berwarna merah. Kulitnya yang putih juga sepasang matanya yang cukup besar dan sungguh menawan. “Baiklah itu desamu kan?.” Tanyanya sambil menunjukkan salah satu jarinya. “Benar… Terimakasih.” Jawabku sambil tersenyum padanya. Ia hanya membalas dengan senyum kecilnya itu. “Hai namamu siapa?” Teriakku.
            “Lalu apa yang membuat kenangan ini indah?.” Kata anak kecil yang memotong ceritaku.
            “Dengarkanlah aku dulu.” Jawabku menegaskannya.
            Perlahan aku membukakan mataku. Bayangan-bayangan terlihat samar. Namun aku mulai kaget saat disekitarku sedang banyak orang. Mereka terlihat seperti menunggu-nungguku untuk terbangun. “Finn kau baik-baik saja?” Tanya lelaki tua dihadapanku. “Hmm ya aku baik-baik saja. Kemana Petr, Grint, Dan Jedediah?.” Balasku. Tiba-tiba aku dibuat shock saat mendengarkan celetukkan dari seorang pria itu juga “Mereka mati..!”. “Apa?.. Kkkata kan yang sebenarnya! Jangan membuatku takut!” Jawabku yang perlahan mengeluarkan air mata. “Iya, Finn. Mereka telah tiada. Jasadnya ditemukan saat kalian sedang bermain di sungai. Dan saat itu hanya kaulah yang selamat.” Balas ibuku meyakinkanku. “Tidakk! Kami saat itu berada di sebuah batuan besar!.” Kataku menyela ocehan mereka. “Tunggu! Lalu siapa yang membawaku kemari?.” Perlahan dari jauh pria tua itu membalas pertanyaanku “Kami! Kami semua yang menyelamatkanmu, Finn!”. Ini membuatku bingung lalu aku membalasnya “Tapi ia mengatakan jika Petr, Grint, dan Jedediah telah pergi lebih dahulu saat aku pingsan di batuan besar itu. Dan anak kecil itulah yang membawaku pulang.” Jawabku panjang lebar. Sejenak mereka juga bingung, beberapa dari mereka menganggap ini adalah sesuatu yang aneh dan diluar nalar. “Kau bilang tadi setelah dari sungai kau tersesat lalu menemukan sebuah ruangan batu besar?” Tanya ibuku. “Iya, bu.” Jawabku singkat. “Baiklah mampukah kau untuk menunjukkan arah ke tempat itu?” Balas pria tua itu.
            Akupun menyetujuinya tawaran mereka. Aku mulai menunjukkan jalan-jalan yang sebelumnya telah dilewati. Dan beberapa saat kemudian jalan setapak itu mulai kutemukan. Aku mulai menggiring rombongan yang berada di belakangku untuk mengikuti diriku. Tumbuhan-tumbuhan liar yang menghalangi perjalanan kita sama persis seperti yang aku lewati saat bersama kawan-kawanku itu. Namun seketika aku mulai bingung akhir dari semak-semak ini adalah Sungai yang tempat biasa kami bermain. Kakiku tak mampu menopang tubuhku ini dan seketika aku duduk terjatuh dan tak sanggup untuk melontarkan kata-kata.
“Selesai…..” Kataku pada anak kecil yang masih setia mendengarkanku.
“Membingungkan. Tapi siapa nama anak kecil itu, Kek?.” Balasnya.
“Evelyn Liths…” Kataku
“Apa? Itu kan namaku? Dan ia juga mirip denganku? Yang benar kek……?

Special offer

Contact us